Inspirasi Biru


Untuk pertama kalinya di kehidupan baru, dengan niat baru, pemikiran baru dan penampilan baru, di pesisir pantai laut selatan….

Aku, seorang diri, menyisiri pinggiran pantai… Menyelami bentangan indah laut lepas…
Menghirup segarnya udara pagi yang bercampur aroma khas air laut
Menatap batas cakrawala dengan semburat mentari pagi yang menghangatkan hati
Merasakan dinginnya air laut menyapa seolah mengajakku di kedalamannya nan penuh pesona

Mentari beranjak naik sepenggalah
Aku terpaku pada satu pemandangan unik yang mengundang tanya…
Di tengah sinar nan gemerlap memantulkan biasnya yang penuh warna….ada ruang gelap di antara karang-karang bawah laut tak jauh dari tempatku berada.
Gelap yang tak mampu ditembus cerahnya mentari
Aku tertegun…..
Sesaat…
Tak mampu melihat sedikitpun cahaya di antara karang-karang yang ada
Tapi…..

Subhanallah…
Cahaya yang indah itu…
Kecil namun meruang biru…
Muncul begitu saja..
Sungguh menakjubkan..
Ia bergerak semakin dekat…
Kemudian lenyap.

Tanpa terasa pipiku basah…
Hatiku menghangat…
Jiwaku bergelora…

Aku ingin seperti dia!

Seekor ikan kecil berwarna biru

Seorang diri mengembara di antara karang di kedalaman lautan..
berani menampakkan diri di tengah kegelapan…
mencahayai dengan kekuatan yang telah terberi…
tanpa rasa takut…
tak khawatir dengan takdir…
Tak sedih karena sendiri…
Tak lelah melakoni peran
Tak kerdil walaupun kecil

Suguhan indah di suatu dhuha
Sekejap saja
Begitu bermakna

Ya Allah,
atas kehendak-MU dan hidayah dari-MU aku berjalan, menata hati, meniti hari, membangun mimpi. Menggapai harapan surgawi

Laa haula wa laa quwwata illa billah

Catatan hati hamba nan faqir di jalan cahaya

29 Desember 1990

Iklan

TO: ALL HUSBAND…


1. Kakek berkata, hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu, sebab istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.

2. Jika marah boleh tidak berbicara dengan istrimu, tapi jangan bertengkar dengannya (membentaknya, mengatainya, memukulnya)

3. Jantung rumah adalah seorang istri. Jika hati istri mu tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka (tidak ada canda tawa, manja, perhatian). Maka sayangi istrimu agar dia bahagia dan engkau akan merasa seperti di surga.

4. Besar atau kecil gajimu, seorang istri tetap ingin diperhatikan. Dengan begitu maka istrimu akan selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

5. Dua orang yang tinggal satu atap (menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. Karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya.

6. Di iluar banyak wanita idaman melebihi istrimu. Namun mereka mencintaimu atas dasar apa yang kamu punya sekarang, bukan apa adanya dirimu. Saat kamu menemukan masa sulit, maka wanita tersebut akan meninggalkanmu dan punya pria idaman lain di belakangmu.

7. Banyak istri yang baik. Tapi di luar sana banyak pria yang ingin mempunyai istri yang baik dan mereka tidak mendapatkannya. Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu. Maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan, sebab ia akan sulit sekali untuk kembali…

Artikel ini dikutip dari bbm grup teman-teman sekolah SMA dulu dan dikirim oleh seorang suami untuk para suami yang lainnya.

Rasanya senang sekali, mengetahui ternyata para suami, khususnya sahabat-sahabatku *salut untuk kalian semua* masih memiliki kepedulian yang besar terhadap peran mereka sebagai seorang suami. Apatah lagi bisa saling mengingatkan satu dengan yang lainnya, saling berbagi agar tercipta keharmonisan keluarga yang senantiasa didamba.

Untuk itulah saya kutip di sini, agar menjadi nasihat abadi bagi kita semua, termasuk para istri;)

Aku Ingin Anakku…….


Aku ingin anakku…..tak seperti aku.

Ya, aku dengan ketidaktahuanku…….dulu sekali…..
Masa kecilku yang indah nan membekas dalam bagai sebuah prasasti di hatiku
Indah untuk dikenang, namun tak ingin terulang….

Anakku harus dan wajib lebih baik dari aku…..

Seperti sebuah buku yang setiap babnya punya lakon tersendiri. Setiap helainya tercatat abadi menjadi saksi atas semua peristiwa yang terjadi dan pengaruh yang ditimbulkannya terhadap diri, hidup dan kehidupan, dalam rasa, dalam jiwa, dalam ingatan. Hingga akhirnya pelan tapi pasti membentuk konsep diri, cara berpikir, perilaku, budaya dan tujuan hidup. Demikianlah masa lalu menuliskan sejarahnya untuk setiap diri.

Aku pernah menangis karena takut ketika awal masuk taman kanak-kanak dulu. Boleh jadi, ketakutan itu muncul karena aku belum merasa siap untuk bergabung dengan teman-temanku. Semua serba baru, lingkungan baru, teman baru, guru baru, pengalaman baru. Rasa tidak percaya diri juga seringkali membuatku ragu untuk mengekspresikan diri. Rasa malu telah mengalahkan keberanianku untuk maju. Hingga aku diminta ke depan untuk maju dan memberi contoh ketika pelajaran menari. Beruntungnya aku saat itu, karena guru yang mengajar tari adalah Pak Endang, tetanggaku. Aku tidak tahu, apakah ditunjuknya aku ke depan karena ia mengenalku atau karena aku cukup berbakat sehingga bisa dijadikan contoh bagi teman-temanku, aku tidak tahu! Terimakasih Pak Endang, semoga Allah memberi tempat terbaik untuknya di sisi-NYA. Atas jasamu aku merasa menjadi lebih berarti.

Dari pengalamanku yang sederhana ini, aku belajar untuk mendengar anak-anakku. Mengenali perasaan mereka, satu demi satu. Memahami dan berempati untuk setiap rasa yang mereka miliki, walaupun bukan sebuah upaya yang mudah dan butuh kepekaan tersendiri. Seperti yang terjadi saat ini pada kedua dari tujuh anakku, Salima dan Safira. Mereka berdua lahir pada tanggal yang sama, di jam yang berbeda hanya beberapa menit saja. Walaupun demikian, masing-masing berasal dari dua sel telur dan sel sperma yang berbeda-beda. Hasil USG menunjukkan usia janin mereka ketika masih dalam kandungan berbeda sekitar dua minggu. What amazing!!! Aku sendiri seringkali terpesona dengan kenyataan yang ada…tapi itulah Allah dengan segala kekuasaan-NYA…subhanallah.

Kembali tentang Salima dan Safira, banyak yang sulit membedakan keduanya. Mereka berbeda tapi terlihat sama. Mereka sama tapi sesungguhnya berbeda. Demikianlah mereka, waktu, jarak, ruanglah yang membuat mereka berdua seperti sama walau berbeda atau seperti berbeda tapi sama. Bingungkan?! hehehe….orang yang tidak mengenal mereka atau bahkan yang mengenalpun kerap menyebut mereka berdua dengan si kembar.

Saat ini usia Salima dan Safira memasuki empat tahun tiga bulan. Kebanyakan anak seusia mereka mungkin sudah mulai bersekolah. Pada awalnya, aku pun ingin mereka seperti anak yang lainnya. Tetapi setiap aku tanya, “Salima mau sekolah?” Atau “Safira mau sekolah?” jawabannya tidak pernah sama. Terkadang “ya” seringkali juga “tidak”. Suatu kali aku mencoba untuk melakukan test atas kesiapan mereka bersekolah. Ketika berangkat dari rumah, mereka berdua tampak senang dan siap. Salima dengan cukup mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan psikolog yang akan menilainya. Subhanallah…..Salima berhasil dengan sangat baik melakukan semua yang diminta untuk dikerjakan dan psikolog menyatakan ia siap untuk sekolah di TK A. Akan halnya Safira….yang dalam hal menyesuaikan diri di lingkungan yang baru berbeda kecepatannya dengan Salima, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menghadapi bahkan mengerjakan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh Salima. Padahal tak ada kesulitan yang berarti untuk Safira bila melakukannya di rumah.

Setelahnya aku mendiskusikan hasil mereka berdua dan saran yang aku terima dari psikolognya…untuk mereka berdua jangan dipisahkan dulu dan masih butuh waktu untuk mempersiapkan mereka agar bisa bersekolah. Kepada Salima, aku bertanya, “Salima mau sekolah?” dengan wajah murung ia menjawab, “nggak!” Penasaran dengan alasannya aku bertanya lagi, “Kenapa?” Jawabnya, “Nanti Safiranya nangis…” Subhanallah…., basah hatiku dibuatnya. Salima kecil, terimakasih…. Salima sudah mengajarkan pada Ummi untuk lebih peduli pada gejolak jiwa Safira. Kucium dan kupeluk erat Salima, guru kecilku yang bijak dan lucu. Ku peluk dan ku cium juga Safira serta meminta maaf padanya karena aku sudah memaksakan hal yang belum siap ia lakukan. Aku memutuskan untuk menunda waktu sekolah mereka sampai tiba saatnya mereka berdua merasakan bersekolah itu menyenangkan.

Masa kecil yang indah yang tak lekang oleh waktu, terpatri kuat dalam ingatan, terpendam dalam mengukir goresan di hati dan membekas di jiwa….. Aku ingin Salima dan Safira mengingatnya dengan hati yang berbunga dan mata nan memancarkan cahaya bahagia agar mereka memiliki gambaran yang indah tentang hidup, harapan yang besar pada Pencipta kehidupan dan jiwa yang siap dan percaya pada ketetapan terbaik atas mereka.

Duhai Allah Yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam keta’atan kepada-MU.

AKU TIDAK TAHU


Ketika banyak para akademisi mengajarkan ini dan itu…
Ketika banyak para motivator mendorong untuk bersikap ini dan itu…
Ketika banyak artikel yang menuliskan ini dan itu…

Aku justru berpikir tentang diriku….
Perjalanan hidupku…
Di jalan cahaya….

Bermula dari “TIDAK TAHU”

Ya benar, sahabatku….

Ketidaktahuanlah yang telah menuntunku…

Sejak semula ketika hidayah itu mencahayai jiwaku. Bukan sebab aku tahu dan memahami apa yang aku lakukan, tidak! Aku tidak tahu.

Hanya ada gelisah di hatiku….tak menentu.
Gelisah yang memaksaku untuk berubah, walaupun aku tidak tahu…

Tepatnya 23 tahun yang lalu, ketika jiwa remajaku gelisah tak menentu. Ketika hanya ada satu keinginan di kepalaku, lulus UMPTN di salah satu perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Tak ada keinginan yang lainnya. Hingga dua kali aku mencobanya.

Sebuah keinginan yang boleh jadi dimiliki oleh semua anak remaja seumurku, semua teman-temanku. Tapi ada yang berbeda, mereka memiliki berbagai pilihan, sementara aku tidak. Bukan karena tidak mau atau tidak mampu, tapi….begitu saja rasa di jiwaku menuntunku. Tak ada keinginan yang lainnya.

Dua tahun aku menunggu….mencoba…berusaha…tak ada yang berubah dari keinginanku. Hanya saja di tahun kedua, ada usahaku untuk mengantisipasi kegagalanku. Aku punya pilihan universitas lain, walaupun swasta. Lagi-lagi tak ada keinginanku untuk sekolah yang lainnya….entah kenapa….saat itu aku tidak tahu.

Akhirnya, penantianku selama dua tahun berakhir tak seperti harapanku. Kecewa, sedih, dan terasa kosong jiwaku saat itu…..

Tapi… aku hadapi, jalani, dan hikmati…

Gelisahku tak kunjung berhenti…

Aku tak mengerti…

Sama sekali tak mengerti….

Tahukah sahabat, aku kuliah dimana?

Universitas Katholik Parahyangan Bandung!!!

Aku seharusnya tahu, kenapa aku memilihnya. Tapi, sejujurnya aku tidak tahu! Bahkan ketika harus memilih jurusan pun, aku masih tidak tahu!

Ada keinginan yang muncul saat itu, tapi aku tak memiliki keberanian untuk langsung memilihnya. Sehingga, aku bertanya pada orangtuaku. Entah kenapa, aku lebih cenderung pada pilihan mereka. Begitu saja, aku tidak tahu!

Satu semester kulalui…. Gelisah tak kunjung berhenti bahkan semakin kubertanya pada diri… Terlebih lagi jelang usia 20 tahun, tonggak kedewasaan dalam definisi yang kumiliki.

Aku ingin berubah!
Aku harus berubah!
Gelisahku menuntunku….

Suatu malam….
Di bawah purnama nan sempurna…
Di tengah lembah…
Di puncak bukit…
Bersama seorang sahabat….
Demikian kecil….
Tak berarti…
Merasakan keagungan semesta yang berbicara…
Inilah saatnya…
Sahabatku menjadi saksinya.

(Note: saat itu yang menjadi sahabatku berbeda keyakinan agama denganku, tapi ia mendukungku)

Mulailah aku mengisi lembaran baru dalam hidupku, dengan selembar kain yang menutup kepala hingga dadaku dan busana yang membalut seluruh tubuhku, tepat ketika 20 tahun usiaku.

Kali ini aku tahu, apa yang aku lakukan. Gelisahku hilang. Aku tahu walau bukan dengan sebenarnya pengetahuan. Saat itu, aku belum tahu kewajiban sebagai muslimah. Aku hanya tahu, dengan memakainya aku bisa berubah. Hanya itu!

Menjadi orang yang pertama berjilbab di kampus katholik di tahun 1990, adalah sesuatu yang tampak asing dan berbeda juga sensasional.

Tapi… Bukan untuk itu aku berubah, bahkan hal itu tak pernah terpikirkan sebelumnya. Demikianlah, jiwaku menuntunku untuk melakukannya. Dalam ketidaktahuanku, cahaya-NYA menerangi dan menampakkan jalan yang harus aku tempuh. Di sebuah tempat yang aku tidak tahu kenapa aku memilihnya……

Satu episode ketidaktahuanku terlewati sudah….

°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°“°“°•

Teringat tulisan Syaikh Rabi’ Ibnu Hadi ketika beliau pernah ditanya apa makna ayat,

و اتّقوا الله و يعلمكم الله

Bertakwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu.

Maka beliau menjawab, sesungguhnya Allah memberikan cahaya dalam pandangan orang-orang yang bertakwa dan diberikan kepahaman kepada mereka terhadap agama ini. Artinya bahwa pada dirinya terdapat kebaikan yang banyak, sebagaimana hadits rasulullah,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barang siapa yang Allah kehendaki atasnya kebaikan, diberikan kepahaman terhadap agama.

Dengan ketakwaan seorang hamba, maka akan Allah berikan atasnya nikmat berupa kemudahan untuk memahami makna alquran dan sunnah. Dan ia akan berusaha untuk senantiasa berada di jalan sunnah.

°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°“°“°•

Untukmu Anakku…..


Nak..

Ibu tak punya banyak cerita untuk hidupmu,
tapi Ibu punya pesan yang ingin disampaikan
untuk hidupmu..

Esok jika engkau tak lagi di sisi Ibu,
ketahuilah nak..
bahwa dunia ini…
tak selembut belai yang pernah engkau rasa,
tak sehangat keluarga yang pernah engkau punya.

Tapi yakinlah nak..
jika engkau menjaga-Nya di hatimu
maka Dia akan menjagamu juga dalam perlindungan Maha Kuat.
Jika engkau mencintai-Nya
maka Dia akan mbuat makhluk-Nya mencintaimu juga.

Esok jika engkau tak lagi di sisi ibu,
ketahuilah nak..
ada beragam orang yang akan engkau temui
dan mereka punya sisi indah sendiri
yang bisa engkau nikmati.
Jangan jauhi mereka karena kekasarannya
karena ketika itu engkau akan belajar untuk kuat.
Jangan jauhi mereka karena kelemahannya
karena ketika itu engkau akan belajar untuk lembut. Jangan jauhi mereka karena kuasanya
karena ketika itu engkau akan belajar untuk bijak,
dan jangn jauhi mereka karena ketidakberdayaannya karena ketika itu engkau akan blajar untuk bangkit.

Nak..
jadilah pembelajar sejati
yang menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai tanda.
Engkau tak harus duduk di belakang meja untuk belajar banyak hal
karena kebanyakan hal yang harus engkau pelajari
sudah disediakan-Nya di sekitarmu.

Jika esok engkau berkenalan dengan pencopet
maka belajarlah untuk bergerak lincah.
Jika esok engkau berkenalan dengan maling
maka belajarlah tepat waktu.
Jika esok engkau berkenalan dengan koruptor
maka belajarlah tentang taktik dan loby.
Jika esok engkau berkenalan dengan teroris
maka belajarlah untuk teliti dan hati-hati.
Jika esok engkau berkenalan dengan pandai besi
maka belajarlah untuk tekun.
Jika esok engkau berkenalan dengan prajurit-Nya
maka belajarlah untuk istiqomah.

Itulah hidup,
selalu indah jika engkau bisa menemukan sudut terbaik untuk engkau menatap..
dan ketahuilah nak
bahwa Rabb adalah ‘pendidik’ Maha Pintar
yang bisa menjawab semua tanyamu,
semua ragumu
dan semua rasa ingin tahumu.

Percayalah nak…
Dia mennjadikan semua itu
sebagai media pembelajaran
sebagai alat untukmu belajar memilah
bahwa dari satu entitas
ada hal yg Dia sukai dan hal yg Dia benci..
jadi ambillah apa yg Dia ingin untuk kau pelajari
dan tinggalkan apa yg tidak Dia sukai.

Ingatlah!
bahwa Dia tidak menciptakanmu
kecuali….
untuk menyembah-Nya.

Sebuah bbm pagi yang menyejukkan hati di sebuah taman surgawi yang Allah janjikan naungan sayap-sayap para malaikat-NYA yang terus menyenandungkan maghfirah kepada siapapun yang berada di dalamnya, walaupun ia hanya sekejap saja.

Ketika Kita Mengeluh


Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin…..”
Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

… … … Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw….”
Allah menjawab : “…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)

Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya…”
Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

Ketika kita mengeluh : “Stressss nih…Panik…”
Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ro’d :28)

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh… ini mah semua bakal sia-sia..”
Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)

Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin…”
Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60

Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gw…”
Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

Ayo broadcast ke tman2 kita smua yg mulai galau atas perhatian Allah yg serasa jauh dari kita pdahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186) ({})

Ya, catatan ini bagian dari bbm yang tak bosan menyampaikan pesan. Andai semua orang merangkai kata penuh makna dalam setiap tulisan yang disebarkan luaskan, niscaya damailah dunia.

Yuk kita mulai dari diri kita sendiri, agar kelak bila saatnya tiba kita mampu mempertanggungjawabkan di yaumil hisab nanti:)

Allah, Terimakasih:'(


Sahabatku yang lembut hati,

Pernahkah satu ketika dalam hidupmu, engkau tak berdaya terhadap dirimu sendiri?

Aku pernah merasakannya….

Saat dimana aku mengetahui apa yang benar itu adalah benar adanya,
menyadarinya,
bahkan meyakininya.

Namun….
Tak kuasa mengelak dari dorongan gejolak hawa nafsu

Lantas…
Melakukan apa yang tidak ingin dilakukan dengan rasa tak menentu
Rasa bersalah yang terus menggelayuti hati
Tatapan kosong menerawangi diri

Akhirnya….
Tak ada lagi tempat kembali

Kecuali…
Pada Zat Yang Maha Mengetahui
Gelisah yang terus berkecamuk dalam diri

Hingga keajaiban pun terjadi

Dalam kepasrahan yang demikian total atas ketidakberdayaan diri
Tangan Kekuasaan-NYA menjauhkan diri bahkan menghindarkannya dari jerat kemaksiatan yang nyaris terjadi

Sebuah episode indah nan hakiki
menegaskan sebuah eksistensi,

Sayangi kami, yaa Allah

Dahan Wangi Abu Dahdah di Surga


Ka’ab bin Malik RA berkata, “Masalah pertama yang menyebabkan Abu Lubabah tercela adalah karena dia dan anak yatim berselisih tentang dahan banyak tangkai (yang disenanginya).” Keduanya mengadu kepada Rasulullah SAW dan beliau memenangkan Abu Lubabah. Anak yatim tersebut menangis. Lalu Rasul bersabda, “Wahai Abu Lubabah, berikanlah dahan itu untuknya.” Abu Lubabah keberatan. Rasulullah SAW mengulangi permintaan beliau, “Berikanlah dahan itu kepadanya dan kamu akan mendapatkan surga.”

Tapi, Abu Lubabah tetap menolak. Tidak lama kemudian datanglah Abu Dahdah menghampiri Abu Lubabah seraya berkata, “Juallah dahan itu dengan dua kotak kebunku.” Abu Lubabah menerimanya.

Lalu, Abu Dahdah membawa dahan itu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Wahai Rasul, jika aku berikan dahan ini kepada anak yatim itu, apakah aku akan mendapatkan semisal dahan ini di surga.” Nabi SAW mengiyakannya. Maka, dahan itu diberikan kepada anak yatim itu, dan Rasul bersabda, “Betapa banyak dahan wangi yang dimiliki Abu Dahdah di surga kelak.” ( HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap anak yatim. Kalau kita telusuri ajaran Islam, kita dapatkan aneka cara dalam memperlakukan hak anak yatim.
Pertama, berbuat baik kepada anak yatim merupakan akhlak Islam yang agung bahkan dijadikan sebagai amalan paling utama dan paling suci. (QS al-Baqarah [2]: 177). Sebelum Islam datang, anak yatim tak mendapatkan perhatian apalagi santunan yang layak. Lalu, Islam memuliakannya dan melarang untuk mengeksploitasinya. (QS al-An’am: 152-153, al-Isra: 34).

Memakan harta anak yatim merupakan salah satu dosa besar dan penyebab masuk neraka. Rasul SAW bersabda, “Jauhilah tujuh dosa besar, yakni menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukmin yang lalai.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, Alquran melarang penghinaan dan menyakiti anak yatim. (QS al-Fajr: 15-23, adh-Dhuha; 9, al-Ma’un: 1-3). Dan ketiga, Alquran memerintahkan supaya kita memuliakan anak yatim dan balasannya adalah surga. (QS al-Insan: 8-22).

Keempat, Nabi telah menegaskan bahwa anak yatim dan wanita lemah adalah golongan yang harus diperhatikan dan dipelihara. Abu Syureih al-Khuza’i meriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, aku merasa berat dengan hak dua kelompok lemah ini, yaitu hak anak yatim dan hak perempuan.” ( HR an-Nasai).

Kelima, Islam menegaskan bahwa penyantun dan penjamin anak yatim akan menjadi teman dekat Rasulullah di surga. “Aku dan penjamin anak yatim berada dalam surga seperti telunjuk dan jari tengah. Rasul mengisyaratkan dengan dua jari tengah dan menjarangkan jari-jari lainnya. ( HR Bukhari dan Ahmad).

Keenam, rumah terbaik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan, dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang ada anak yatim, namun dihinakan. Dari sini, kita wajib menyantuni anak yatim dan memperhatikan hak-hak mereka bukan saja aspek material tapi juga aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan spiritual.

Sumber: Republika, 30 November 2011 11:20
Judul: Hak-Hak Anak Yatim
Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

Red: Siwi Tri Puji B

Orang Bilang Anakku Seorang Aktivis.


Sefta Agustian > INDONESIA.. HARAPAN ITU MASIH ADA!

copas dari lapak kawan di grup tetangga yang diambil dari grup tetangga

silahkan dibaca dengan penuh kerendahan hati
sebagai renungan .

Orang bilang anakku seorang aktivis.
Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.
Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat .
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak ?
Ibu bilang,
engkau hanya seorang putra kecil Ibu yang lugu.

Anakku,
sejak mereka bilang engkau seorang aktivis Ibu kembali mematut diri menjadi Ibu seorang aktivis.
Dengan segala kesibukkanmu,
Ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak,
tapi apakah menghabiskan waktu dengan Ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak?
Sungguh setengah dari umur Ibu
telah Ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu Nak,
tanpa pernah Ibu berfikir
bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,
kita memang berada disatu atap Nak,
di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan Ibumu ini.
Tapi kini dimanakah rumahmu Nak?
Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini.
Sepanjang hari Ibu tunggu kehadiranmu di rumah,
dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .
Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini,
tapi Ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu .
Ah,
lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,
bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu.
Atau jangankan untuk tersenyum,
sekedar untuk mengalihkan pandangan pada Ibumu saja,
katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,
andai kau tahu Nak,
Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,
memastikan engkau baik-baik saja,
memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tahu.
Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak,
tapi bukankah aku ini Ibumu ?
yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku..

Anakku,
Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,
engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu .
Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,
Ibu bangga padamu.
Namun,
sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak,
kapan terakhir engkau menanyakan kabar Ibumu ini Nak ?
Apakah engkau mengkhawatirkan Ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ?
Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu Nak ?
Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,
Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak,
menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,
tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan.
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?
Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku,
Ibu mencoba membuka buku agendamu.
Buku agenda sang aktivis.
Jadwalmu begitu padat Nak,
ada rapat disana sini,
ada jadwal mengkaji,
ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.
Ibu membuka lembar demi lembarnya,
disana ada sekumpulan agendamu,
ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.
Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,
masih saja ibu berharap bahwa nama Ibu ada disana.
Ternyata memang tak ada Nak,
tak ada agenda untuk bersama Ibumu yang renta ini.
Tak ada cita-cita untuk Ibumu ini.
Padahal Nak,
andai engkau tahu
sejak kau ada di rahim Ibu
tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk Ibu selain cita dan agenda untukmu,
putra kecilku..

Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka,
mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesionalitasmu untuk Ibu ?
Dimana profesionalitasmu untuk keluarga ?
Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah, waktumu terlalu mahal nak.
Sampai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang-orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik.
Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .
Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan . Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,
Untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah…
bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.
Karena tanpa ridhamu,
Mustahil kuperoleh ridhaNya…”

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu


Harry Santosa > Millenial Learning Center

dari Neno Warisman: “Izinkan Aku Bertutur”

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya,
Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah