Gambar

Benteng Muhammad Al Fatih


20130414-065637.jpg

Iklan

Surat Cinta Bunda


Jangan pernah menyesal ya, nak.. mempunyai seorang ibu seperti bunda …

Bunda yg miskin ilmu, tapi berharap kelak engkau tumbuh menjadi orang yg berilmu …

Bunda yg tidak hafal Al-Quran, tapi berharap kelak engkau menjadi satu diantara deretan barisan penghafal Al-Qur ‘an..

Bunda yg masih sering lalai, tapi berharap engkau tumbuh menjadi barisan terdepan penegak kebajikan..

Bunda yg terkadang masih egois, tapi berharap engkau tumbuh penuh empati..

Bunda yg terkadang masih bermalasan, tapi berharap engkau tumbuh menjadi anak yg rajin menebar kebajikan di bumi Allah..

Ah, betapa tangan kecilmu begitu ampuh mengingatkan bunda..
Akan setumpuk PR yg harus bunda benahi dalam diri bunda..
Karena bunda takut, kamu malu punya ibu seperti bunda….

Yang tidak setegar Khadijah binti Khuwailid, secerdas Fatimah Azzahrah, sedermawan Saudah binti Zam ‘ah, penuh cinta seperti ‘Aisyah binti Abu Bakar, serajin Hafshah binti Umar, sedermawan Zainab binti Khuzaimah, sesabar Ummu Salamah, selembut Shafiyyah binti Huyay..

Begitu banyak PR bunda, nak..

Semoga engkau mau memaklumi kekurangan bunda..

Semoga kelak engkau tumbuh lebih baik dari bunda..

Beri kesempatan bunda untuk mengerjakan PR bunda, nak …

Agar kelak engkau tidak menyesal, mempunyai ibu seperti bunda …

Agar kelak kita sama- sama bermuara di pintu surgaNya…

(Dedicated to my child, I’m not a perfect mom. But let me try to be a good mom… Love u dear…)

*Surat cinta yang indah, dicopas dari grup bbm POM SKKM, Selasa, 17 April 2012, 8.42pm*

Jejak cinta seorang hamba*

Renungan Indah Untuk Ayah dan Bunda


Renungan indah untuk para Ayah & Bunda dari Penyair Besar KH. Zawawi Imran;

Seorang lelaki datang kepada seorang ustadz, mengadukan persoalan keluarganya.

“Saya bosan di rumah sekarang.”

“Mengapa?”

“Tidak ada yang menarik.”

“Lalu engkau jarang di rumah?”

“Iya, tentu.”

“Anakmu berapa?”

“Dua. Satu laki-laki berumur lima tahun, satunya perempuan, tiga tahun.”

“Pernahkah engkau perhatikan anakmu ketika sedang makan?”

“Tidak.”

“Ketika sedang bermain-main?”

“Juga tidak.”

“Ketika sedang tidur saat tengah malam?”

“Tidak.”

“Coba lakukanlah itu. Ketika engkau sedang memperhatikan, rasakanlah bahwa ia adalah anakmu, pelanjut denyut hidupmu, yang harus kau curahi cinta dan kasih sayang.

Anak-anakmu itu adalah karunia Allah untuk menyenangkan hatimu.

Ketika ia makan, perhatikanlah bagaimana ia mengunyah rezeki yang dikirim Allah lewat tanganmu yang bekerja.

Ketika ia tidur, perhatikanlah hidungnya yang mungkin mirip mu, bibirnya yang mungkin mirip ibunya, dan perhatikanlah pula bagaimana desah nafasnya ketika menghirup dan menghembuskan udara.

Itu semua film indah yang disuguhkan Allah untukmu.

Kalau engkau membiasakan melakukan ini sambil mengingat Allah, engkau akan mendapatkan nikmat ruhani tiada tara.

Di antara orang-orang yang sangat malang, ialah orang yang tidak bisa menikmati keindahan yang dipancarkan Allah lewat gerak dan tingkah laku anak-anaknya sendiri…({}) ❤

Subhanallah… Sebuah renungan indah yang membawa kita untuk kembali memaknai peran sebagai orangtua.

Semoga Allah mudahkan jalan untuk kita menjalankan peran menjadi orangtua, membimbing kita dengan cahaya-NYA, melembutkan hati kita dengan cinta-NYA dan menautkan ikatan kasih sayang kita dengan anak-anak kita.

Kita Pernah Dilukai Dan Melukai..


Renungan Malam Jelang Terlelap..

Kita pernah “DILUKAI”
dan mungkin pernah “MELUKAI”
tapi krn itu kita BELAJAR
tentang bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan.

Kita pernah “DIBOHONGI”
dan mungkin pernah “MEMBOHONGI”,
tapi dari itu kita belajar tentang KEJUJURAN.

Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tidak pernah belajar arti diri MEMINTA MAAF dan MEMBERI MAAF.
Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,..yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari ESOK yang lebih baik.

Hidup adalah proses,
Hidup adalah belajar.
Tanpa ada batas umur,
Tanpa ada kata tua

JATUH, berdiri lagi
KALAH, mencoba lagi
GAGAL, bangkit lagi,
Sehinggalah Allah Ta’alla memanggil:
“Waktu untuk PULANG”

“Allahumma Alaika Tawakkalna Wa Ilaika Anabna Wa Ilaikal Mashier”

Contack Me :
☎ +62 813 816 11 665
Pin  26E85A28
Twitter : @sahaladlil
FaceBook : Ahmad Sahal

..Terus Bekerja Untuk INDONESIA..

Surat Untuk Ananda


Assalamu’alaikum Ananda Sholihat

Subhanallah, surat yang panjang, spontan, dan ceria. Itu kesan yang Bunda tangkap dari cara ananda bertutur. Senang rasanya bisa berkenalan, bersahabat dan berbagi cerita dengan seorang yang jujur, apa adanya dan rendah hati dalam berkomunikasi.

Berbahagialah sayang, Ananda mungkin salah satu dari sedikit anak-anak yang istimewa. Kenapa Bunda katakan demikian. Di usia yang masih belia, Ananda sudah memiliki kesadaran diri yang sungguh luar biasa. Penerimaan yang sederhana dalam mensikapi takdir yang telah Allah tetapkan atas diri Ananda. Ketabahan seorang anak yang bahkan sudah tak memiliki Ibunda. Bersyukurlah Ananda, engkau memiliki kecerdasan spiritual yang istimewa.

Ananda harus percaya bahwa setiap orang itu istimewa. Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap kita berbeda. Kalau Ananda melihat banyak teman yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata, maka Bunda katakan Ananda memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Masing-masing pasti memiliki keunggulannya tersendiri. Jalan hidup ananda membuatmu lebih peka, lebih sederhana, lebih rendah hati, bahkan lebih mampu bersyukur atas keadaan yang terjadi. Modal ini amat sangat diperlukan untuk cita-cita ananda menjadi seorang dokter. Tidak cukup hanya berbekal kecerdasan intelektual, seorang dokter harus memiliki hati yang lembut, peka, mudah bersimpati dan berempati. Ananda harus yakin, bila menjadi seorang dokter adalah yang terbaik menurut Allah untuk Ananda, maka pasti ada jalan untuk meraihnya. Belajarlah dengan penuh kesungguhan, keikhlasan, tanpa kenal lelah dan bosan. Bertawakkalah kepada Allah dan mohonlah petunjuk serta pertolongan-Nya. Dengan kekuasaan-Nya Allah akan membuat yang sulit menjadi mudah, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tugas kita sebagai hamba, hanya berusaha dan berdo’a dengan segenap hati dan daya. Biarlah Allah yang menetapkan hasil akhirnya untuk kita.

Ananda sholihat, waktu yang Allah titipkan pada kita sama, 24 jam setiap harinya. Dalam waktu itu, ada hak Allah, hak orangtua, hak diri kita, hak teman kita. Kesibukanmu jangan sampai melalaikanmu dari kewajiban utama sebagai seorang hamba Allah. Kesibukanmu meraih cita-cita jangan sampai membuatmu menjadi anak yang tidak berbakti pada orangtua. Kesibukanmu dengan berbagai tugas sebagai seorang siswa, jangan membuatmu abai pada hak tubuhmu untuk beristirahat. Buatlah skala prioriatas dalam beraktivitas hingga waktumu bisa tertata dan terencana serta punya target yang jelas.

Bersyukurlah Ananda, Allah telah membimbingmu senantiasa dalam hidayah-Nya, Allah ringankan lidahmu untuk membaca Al Qur’anul Kariim, Allah mudahkan dirimu untuk memahami artinya hingga terasa sebagai solusi untuk setiap masalah.

Alhamdulillah, Bunda sangat senang dan bangga bisa bersahabat dengan Ananda. Semoga Allah pertemukan kita karena cinta yang telah bersemi diantara kita, dalam cinta kita kepada-Nya di jalan cinta-Nya.

Peluk sayang untukmu Ananda sholihat. Do’aku menyertaimu.

Wassalam,

Bunda Hani

AKU TIDAK TAHU


Ketika banyak para akademisi mengajarkan ini dan itu…
Ketika banyak para motivator mendorong untuk bersikap ini dan itu…
Ketika banyak artikel yang menuliskan ini dan itu…

Aku justru berpikir tentang diriku….
Perjalanan hidupku…
Di jalan cahaya….

Bermula dari “TIDAK TAHU”

Ya benar, sahabatku….

Ketidaktahuanlah yang telah menuntunku…

Sejak semula ketika hidayah itu mencahayai jiwaku. Bukan sebab aku tahu dan memahami apa yang aku lakukan, tidak! Aku tidak tahu.

Hanya ada gelisah di hatiku….tak menentu.
Gelisah yang memaksaku untuk berubah, walaupun aku tidak tahu…

Tepatnya 23 tahun yang lalu, ketika jiwa remajaku gelisah tak menentu. Ketika hanya ada satu keinginan di kepalaku, lulus UMPTN di salah satu perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Tak ada keinginan yang lainnya. Hingga dua kali aku mencobanya.

Sebuah keinginan yang boleh jadi dimiliki oleh semua anak remaja seumurku, semua teman-temanku. Tapi ada yang berbeda, mereka memiliki berbagai pilihan, sementara aku tidak. Bukan karena tidak mau atau tidak mampu, tapi….begitu saja rasa di jiwaku menuntunku. Tak ada keinginan yang lainnya.

Dua tahun aku menunggu….mencoba…berusaha…tak ada yang berubah dari keinginanku. Hanya saja di tahun kedua, ada usahaku untuk mengantisipasi kegagalanku. Aku punya pilihan universitas lain, walaupun swasta. Lagi-lagi tak ada keinginanku untuk sekolah yang lainnya….entah kenapa….saat itu aku tidak tahu.

Akhirnya, penantianku selama dua tahun berakhir tak seperti harapanku. Kecewa, sedih, dan terasa kosong jiwaku saat itu…..

Tapi… aku hadapi, jalani, dan hikmati…

Gelisahku tak kunjung berhenti…

Aku tak mengerti…

Sama sekali tak mengerti….

Tahukah sahabat, aku kuliah dimana?

Universitas Katholik Parahyangan Bandung!!!

Aku seharusnya tahu, kenapa aku memilihnya. Tapi, sejujurnya aku tidak tahu! Bahkan ketika harus memilih jurusan pun, aku masih tidak tahu!

Ada keinginan yang muncul saat itu, tapi aku tak memiliki keberanian untuk langsung memilihnya. Sehingga, aku bertanya pada orangtuaku. Entah kenapa, aku lebih cenderung pada pilihan mereka. Begitu saja, aku tidak tahu!

Satu semester kulalui…. Gelisah tak kunjung berhenti bahkan semakin kubertanya pada diri… Terlebih lagi jelang usia 20 tahun, tonggak kedewasaan dalam definisi yang kumiliki.

Aku ingin berubah!
Aku harus berubah!
Gelisahku menuntunku….

Suatu malam….
Di bawah purnama nan sempurna…
Di tengah lembah…
Di puncak bukit…
Bersama seorang sahabat….
Demikian kecil….
Tak berarti…
Merasakan keagungan semesta yang berbicara…
Inilah saatnya…
Sahabatku menjadi saksinya.

(Note: saat itu yang menjadi sahabatku berbeda keyakinan agama denganku, tapi ia mendukungku)

Mulailah aku mengisi lembaran baru dalam hidupku, dengan selembar kain yang menutup kepala hingga dadaku dan busana yang membalut seluruh tubuhku, tepat ketika 20 tahun usiaku.

Kali ini aku tahu, apa yang aku lakukan. Gelisahku hilang. Aku tahu walau bukan dengan sebenarnya pengetahuan. Saat itu, aku belum tahu kewajiban sebagai muslimah. Aku hanya tahu, dengan memakainya aku bisa berubah. Hanya itu!

Menjadi orang yang pertama berjilbab di kampus katholik di tahun 1990, adalah sesuatu yang tampak asing dan berbeda juga sensasional.

Tapi… Bukan untuk itu aku berubah, bahkan hal itu tak pernah terpikirkan sebelumnya. Demikianlah, jiwaku menuntunku untuk melakukannya. Dalam ketidaktahuanku, cahaya-NYA menerangi dan menampakkan jalan yang harus aku tempuh. Di sebuah tempat yang aku tidak tahu kenapa aku memilihnya……

Satu episode ketidaktahuanku terlewati sudah….

°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°“°“°•

Teringat tulisan Syaikh Rabi’ Ibnu Hadi ketika beliau pernah ditanya apa makna ayat,

و اتّقوا الله و يعلمكم الله

Bertakwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu.

Maka beliau menjawab, sesungguhnya Allah memberikan cahaya dalam pandangan orang-orang yang bertakwa dan diberikan kepahaman kepada mereka terhadap agama ini. Artinya bahwa pada dirinya terdapat kebaikan yang banyak, sebagaimana hadits rasulullah,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barang siapa yang Allah kehendaki atasnya kebaikan, diberikan kepahaman terhadap agama.

Dengan ketakwaan seorang hamba, maka akan Allah berikan atasnya nikmat berupa kemudahan untuk memahami makna alquran dan sunnah. Dan ia akan berusaha untuk senantiasa berada di jalan sunnah.

°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°“°“°•

Orang Bilang Anakku Seorang Aktivis.


Sefta Agustian > INDONESIA.. HARAPAN ITU MASIH ADA!

copas dari lapak kawan di grup tetangga yang diambil dari grup tetangga

silahkan dibaca dengan penuh kerendahan hati
sebagai renungan .

Orang bilang anakku seorang aktivis.
Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.
Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat .
Orang bilang anakku seorang aktivis.
Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak ?
Ibu bilang,
engkau hanya seorang putra kecil Ibu yang lugu.

Anakku,
sejak mereka bilang engkau seorang aktivis Ibu kembali mematut diri menjadi Ibu seorang aktivis.
Dengan segala kesibukkanmu,
Ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak,
tapi apakah menghabiskan waktu dengan Ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak?
Sungguh setengah dari umur Ibu
telah Ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu Nak,
tanpa pernah Ibu berfikir
bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku,
kita memang berada disatu atap Nak,
di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan Ibumu ini.
Tapi kini dimanakah rumahmu Nak?
Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini.
Sepanjang hari Ibu tunggu kehadiranmu di rumah,
dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .
Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini,
tapi Ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu .
Ah,
lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,
bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu.
Atau jangankan untuk tersenyum,
sekedar untuk mengalihkan pandangan pada Ibumu saja,
katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,
andai kau tahu Nak,
Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,
memastikan engkau baik-baik saja,
memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tahu.
Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak,
tapi bukankah aku ini Ibumu ?
yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku..

Anakku,
Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,
engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu .
Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,
Ibu bangga padamu.
Namun,
sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak,
kapan terakhir engkau menanyakan kabar Ibumu ini Nak ?
Apakah engkau mengkhawatirkan Ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ?
Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu Nak ?
Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?

Anakku,
Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak,
menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,
tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan.
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?
Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku,
Ibu mencoba membuka buku agendamu.
Buku agenda sang aktivis.
Jadwalmu begitu padat Nak,
ada rapat disana sini,
ada jadwal mengkaji,
ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.
Ibu membuka lembar demi lembarnya,
disana ada sekumpulan agendamu,
ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.
Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,
masih saja ibu berharap bahwa nama Ibu ada disana.
Ternyata memang tak ada Nak,
tak ada agenda untuk bersama Ibumu yang renta ini.
Tak ada cita-cita untuk Ibumu ini.
Padahal Nak,
andai engkau tahu
sejak kau ada di rahim Ibu
tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk Ibu selain cita dan agenda untukmu,
putra kecilku..

Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka,
mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.
Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesionalitasmu untuk Ibu ?
Dimana profesionalitasmu untuk keluarga ?
Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah, waktumu terlalu mahal nak.
Sampai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang-orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik.
Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .
Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan . Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus,
Untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah…
bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.
Karena tanpa ridhamu,
Mustahil kuperoleh ridhaNya…”

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu


Harry Santosa > Millenial Learning Center

dari Neno Warisman: “Izinkan Aku Bertutur”

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya,
Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah

Facebook Status Anak Kita


Harry Santosa > Millenial Learning Center

Rabu, 23 November 2011
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.

Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.

Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di Facebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.

Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.

Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.

Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.

Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka

Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.

Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.

Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.

Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status Facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.

Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.

Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi
Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.

Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.

Pacaran Online Pun Terjadi

Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.

Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.

Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.
Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).

Wallahu a’lam bishawab
Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting
Diambil dari website Hidayatullah.com