Kanker Nasofaring


Kisah sahabatku Bu Herni…

Sejak Agustus 2010 suami didiagnosis terkena Kanker Nasofaring, gejala awal telinga kanan selalu berdenging, mimisan, kepala sering pusing, demam & wajah kanan kaku, kelenjar getah bening terasa ada benjolan. Setelah di CT SCAN, biopsi dll diagnosanya Cancer Nasofaring stadium 2B. Mulai saat itu suami terapi. Terapi yg dipilih herbal.

Terapi yang pernah dilakukan: Berobat ke dokter Paulus diBandung, terapi Cina di SUKABUMI dengan Profesor Yusuf, terapi bekam & akupuntur, terapi Key dengan dokter Neni, terapi ECCT oleh Prof. DR WARSITO, dan herbal-herbal yang lainnya.

Selama itu suami banyak mengalami perubahan fisik: mata kanan menonjol, kelopak mata tertutup, ada benjolan di depan &di belakang telinga, berat badan turun 30 kg, wajah kanan mati rasa, mata kanan sudah tidak bisa melihat, syaraf wajah tidak berfungsi.

Dan 4 hari yang lalu suami masuk rumah sakit karena sudah tidak bisa menelan makanan & tidak bisa minum, keluar darah dari hidung, mulut dan telinga. Dari hasil CT SCAN terbaru sudah masuk stadium 4. Dengan tumor sudah mendesak otak.

Sekarang dirawat di RUMAH SAKIT ISLAM, CEMPAKA PUTIH. LANTAI 2, RUANG ARAFAH ATAS. KAMAR NO 4.

Kepada sahabatku yang mulia hatinya, marilah kita melapangkan hati, meringankan langkah, untuk membantu sahabat kita semua. Bila berkenan membantu meringankan ujian yang dialami Bu Herny dan Pak Sujadi bisa disalurkan melalui transfer ke:

Rek BNI SYARIAH ac 0197874111 an Herny Sugiharti
Rek BSM ac 0027093811 an SUJADI.

Semoga Allah meridhai langkah kita untuk saling peduli dan berbagi, minimal do’a tulus sepenuh hati bagi sahabat yang tengah diuji.

Jazakumullah ahsanal jazaa

TO: ALL HUSBAND…


1. Kakek berkata, hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu, sebab istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.

2. Jika marah boleh tidak berbicara dengan istrimu, tapi jangan bertengkar dengannya (membentaknya, mengatainya, memukulnya)

3. Jantung rumah adalah seorang istri. Jika hati istri mu tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka (tidak ada canda tawa, manja, perhatian). Maka sayangi istrimu agar dia bahagia dan engkau akan merasa seperti di surga.

4. Besar atau kecil gajimu, seorang istri tetap ingin diperhatikan. Dengan begitu maka istrimu akan selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

5. Dua orang yang tinggal satu atap (menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. Karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya.

6. Di iluar banyak wanita idaman melebihi istrimu. Namun mereka mencintaimu atas dasar apa yang kamu punya sekarang, bukan apa adanya dirimu. Saat kamu menemukan masa sulit, maka wanita tersebut akan meninggalkanmu dan punya pria idaman lain di belakangmu.

7. Banyak istri yang baik. Tapi di luar sana banyak pria yang ingin mempunyai istri yang baik dan mereka tidak mendapatkannya. Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu. Maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan, sebab ia akan sulit sekali untuk kembali…

Artikel ini dikutip dari bbm grup teman-teman sekolah SMA dulu dan dikirim oleh seorang suami untuk para suami yang lainnya.

Rasanya senang sekali, mengetahui ternyata para suami, khususnya sahabat-sahabatku *salut untuk kalian semua* masih memiliki kepedulian yang besar terhadap peran mereka sebagai seorang suami. Apatah lagi bisa saling mengingatkan satu dengan yang lainnya, saling berbagi agar tercipta keharmonisan keluarga yang senantiasa didamba.

Untuk itulah saya kutip di sini, agar menjadi nasihat abadi bagi kita semua, termasuk para istri;)

Betapa Bahagianya Aku di Sisimu..


Ketika kehidupan dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang, terucap dalam sukma. Membisikkan kata mesra kepada orang yang kita cintai, “Sayang, betapa bahagianya aku disisimu.”

Kebahagiaan Itu menimbulkan rasa nyaman dan tenteram dan damai dalam tubuh kita.  Rasa tenteram dan bahagia itu bukanlah sesuatu yang datangnya kebetulan tetapi memang dirancang dan direncanakan oleh Allah dengan sangat matang.

Ketenteraman dan kebahagiaan yang terlahir karena adanya kasih sayang. Perasaan kasih sayang pada suami istri “ditiupkan” oleh Allah ke dalam hati mereka dan itulah bukti betapa Allah sangat berkuasa atas diri kita.

Kita merawat cinta dan kasih sayang yang telah ditiupkan ke dalam sanubari kita, kebahagiaan dan ketenteraman kita akan rasakan. Kitapun mengungkapkan dengan setulus hati, kecintaan kita kepada pasangan kita tetapi sebaliknya, bila kita menodainya dengan nafsu amarah maka ketenteraman dan kebahagiaan tidak pernah terwujud. Allah telah memberikan kebun indah dengan berhias aneka warna dan harum mewangi agar kita dapat menciptakan ketenteraman dalam hidup kita. 

Selanjutnya kita sendirilah yang diberikan kebebasan mengambil peran dalam upaya meraih ketenteraman tersebut dengan jalan merawat dan tidak menciderai rasa cinta serta kasih sayang.

Disaat kita merawat seringkali tangan kita terluka terkena duri. Kalau kita mengerti, kita tidak akan mengeluh disaat kita merawat cinta dan kasih sayang keluarga kita sebab kasih sayang Allah menguatkan kita melalui  duri-duri tajam kehidupan, semua itu mengajarkan kita dan melatih kesabaran kita untuk tetap kuat dan kokoh dalam menghadapi masalah.

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Taujih seorang Ustadz di bbm, pagi ini jam 08.39

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Galeri

Ketika Jodoh Tiba…

This gallery contains 1 photo.


Inilah kami, aku dan suamiku… Cukup serasi bukan?!;) Kata orang, kami mirip satu sama lain, seperti kakak beradik. Ada juga yang mengatakan, “Suamimu orang sunda juga ya?” Bahkan pihak keluarga besarku mengakui suamiku sebagai bagian dari mereka. Boleh jadi karena … Baca lebih lanjut

Indahnya Menikah… (plus tanggapan Kajian Online Sahabat Muslimah)


Nikah, adalah suatu hal yang dinanti-nanti. Keindahannya tak bisa dibayangkan kecuali bagi yang sudah mengalaminya. Dengan menikah, pikiran, dan hati menjadi tenang, tentram tak terkira. Pandangan jadi lebih bisa terjaga. Lebih dari itu, menikah adalah fitrah setiap anak Adam. Dengan menikah, seseorang bisa semakin lebih dewasa dalam berfikir, berprilaku bahkan dalam mengambil dan memutuskan sebuah pilihan.

Ada beberapa hal yang bisa dihayati mengapa seseorang itu harus menikah. Di antaranya; pertama, menikah berarti melengkapi agamanya. “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Kedua, menikah bisa menjaga kehormatan diri. “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.

Ketiga, bersenda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia melainkan suatu amal mulia yang dianjurkan. “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.

Keempat, bersetubuh dengan istri termasuk sedekah. Suatu ketika para shahabat Nabi SAW berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih, takbir, tahlil dan tahmid terdapat sedekah; memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?”

Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu di salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?”

Mereka menjawab, “Ya, tentu.”

Beliau bersabda, “Demikian pula bila dia menyalurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala. (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah.

Lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat Dhuha dua rakaat.” (Buku

Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar “Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri”. Aih…

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi.

Menikah itu Subhanallah indah,  dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja yang lainnya cuma ngontrak, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

Saya jadi ingat kisah tetangga saya, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kerja, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi “perang” hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur “Maafkan Mama ya Pa..”. Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. “Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya” demikian jawabnya singkat.

Ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti.

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki “Surga”.

Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta.

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.

Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world “Akhirat”. Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.

Allahumma Aamiin.

Tulisan ini saya kutip dari Kompasiana, dan ditulis oleh Bunda Istvan | 28 January 2011 | 20:15 WIB

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Tanggapan dari Windy Sumekar:
sudah…subhanallah indah… 🙂 < smoga yg akan menikah & telah menikah slalu bisa berjalan dgn indah pernikahannya, wlo pasti ada riak2 kecil 🙂

Jawaban: Bukankah riak-riak kecil itu suara alam yang merdu bila dinikmati dan dihikmati dengan kebeningan hati dan keluasan berpikir?:)

‪Tanggapan Windy Sumekar:
setuju bu Hani 🙂

Tanggapan Rizka Mutia Pratiwi:
Aamiin… Subhanallah… Baris demi baris mbaca tulisan ini jd terharu.. Sy yg notebenenya msh terhitung pengantin baru, masih terus beradaptasi dgn dinamika kerumahtanggaan, terus & terus belajar untuk menggapai sakinah, mawaddah & rahmah-Nya.. Ya, indahnya menikah… Jd teringat obrolan bsama teman2 ttg menikah, menikah bukan berarti lepas dr sgala pmasalahan, terbayang akan bahagiaaa setiap hari.. tp justru, akan banyak skali ujian2, cobaan yg akan mnghampiri, & mngiringi langkah" pjalanan" ini..

Tanggapan Riswur Yanti:
Indahnya Nikah….subhanallah uraiannya bu…walaupun saya blm merasakan, moga bs utk bekal nanti…

Jawaban:
Yakinlah adinda Riswur Yanti, Allah menciptakan makhluk-NYA dengan berpasang-pasangan. Mungkin hari ini jodoh itu belum lagi datang tapi bukan berarti harapan harus hilang. Karena masalah jodoh adalah hak prerogatif dari Allah. Kita hanyalah menjadi pelakon kehidupan atas skenario yang sudah Allah tetapkan. Jalankanlah peran yang diberikan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan piala citra dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Tanggapan Riswur Yanti:
InsyaALLAH bu Hani Hendayani…syukron ya bu….

Tanggapan Rizalina Lina :
bu hani mau tanya…..ada kisah nyata…sebuah keluarga istri dan suaminya sama2 cerdas,cantik dan ganteng,secara ekonomi lebih dari cukup…rasanya tidak ada yg kurang…namun mereka bercerai…koq bisa ya bu ?…..kira2 apa permasalahannya

Jawaban:
Mba Lina, pernikahan bukan hanya soal kecantikan, kekayaan ataupun kecerdasan sehingga Rasulullah menekankan pilihan pasangan hidup berdasarkan agama menjadi pilihan terbaik.

Ya, sepasang suami istri bisa saja sempurna dalam pandangan kasat mata kita, namun ketika ikatan yang terjalin diantara mereka bukan karena agama dan Allah yang telah mempertemukan mereka, maka rapuhlah ia, sebagaimana sarang laba-laba.

Tanggapan Rizalina Lina:
masyaAllah ya bu….tapi ikhwan sekarang mencari akhwat kayaknya lebih kepada fisik ya bu

Jawaban:
Sangat wajar karena terlalu banyak stimulasi yang dilihat dan terlalu sering untuk dihindari karena dunia kita menawarkannya dengan berbagai perhiasan yang ada di dalamnya.

Yakinlah kalau ingin mendapatkan yang baik, jadikanlah kebaikan yang kita ingin dapatkan dari ikhwan yang kita harapkan menjadi jodoh kita, justru kita berlakukan pertama-tama untuk diri kita. Sehingga bila yang datang kepada kita ikhwan yang orientasinya fisik semata, jangan2 sadar/tidak kita pun punya kecenderungan yang sama;)

Tanggapan Mailani Hamzah:
Teringat kutipan tulisan Ust. Anis, bahwa ternyata orang cantik tidak selamanya membutuhkan orang ganteng atau sebaliknya, dan org pintar tidak selamanya membutuhkan orang pintar juga, karena menikah sesungguhnya untuk saling melengkapi, betul gak bu?

Jawaban:
Betul, pernikahan adalah sinergi. Maka suami menjadi pakaian bagi istri dan istri menjadi pakaian bagi suami. Fungsi pakaian adalah menutupi aurat, melindungi dari panas, angin dan hujan serta menghiasi diri agar terlihat indah.

Tanggapan Rizka Mutia Pratiwi:
bu, mw tanya.. seyogyanya suami-istri itu kan harus terbuka satu sama lain.. menurut pandangan islam sndiri harus seterbuka apa? ketika misalnya suami pny sdikit pmasalahan, krn tdk ingin mbebani istrinya dy memilih tuk tdk mbicarakannya (dipendam sndiri

Tanggapan Rizka Mutia Pratiwi:
dy bpikir, klo mslhnya sdh selesai, br akan cerita.. apa boleh spt itu? atw sbtulnya mw pahit, manis apapun itu harus diceritakan, & didiskusikan bsama…?

Jawaban:
Mba Rizka yang baik, sebuah pernikahan sebaiknya dilandasi dengan keterbukaan dan kejujuran. Namun do'a kita pernikahan juga supaya sakinah, mawaddah wa rahmah, ada ketenangan, cinta dan kasih sayang.

Bila seorang suami tidak terbuka pada istrinya karena khawatir membebani istrinya maka sesungguhnya dia sangat mencintai istrinya sehingga berharap ketika istrinya tidak tahu masalahnya, akan tercipta ketenangan dalm rumahtangga, tidak khawatir atau gelisah. Tetapi bila sang istri tidak berkenan dan lebih berharap keterbukaan, maka tidak ada salahya untuk mulai terbuka dengan membicarakan apa yang diharapkannya dari suaminya, walaupun dengan resiko terbebani dan harus siap untuk bersama-sama memikul persoalan.

Tanggapan Dwi Setyo:
setuju dengan pertanyaan mba
Rizka Mutia Pratiwi,bagaimana dengan sebaliknya,istri mempunyai masalah ekonomi tapi tak mau membicarakan dengan suami karena takut si suami merasa sedih dan kurang berharga karena dia sudah berusaha semaksimal dia bisa…bagaimana menurut bu Hani?

Mba Dwi yang baik, agak berbeda konteksnya ketika menyangkut istri dan masalah ekonomi. Pertama, kalau suami posisinya adalah pemimpin keluarga, sehingga keputusannya bisa menjadi keputusan untuk keluarga. Akan tetapi seorang istri senantiasa berada dalam perwalian suaminya sehingga apapun yang dilakukannya apalagi menyangkut masalah ekonomi yang bukan menjadi tanggungjawabnya maka ia punya kewajiban membicarakannya dengan suaminya. Bila disetujui silahkan dilanjutkan usahanya, namun bila tidak ia harus ridha dengan keputusan suaminya.

Tanggapan Dwi Setyo Andriani:
terima kasih bu Hani,kadang terasa berat untuk berkata jujur,namun tak jujur pun lebih salah lagi ya bu??

Jawaban:
Seperti jamu, kejujuran itu pahit namun menyehatkan jiwa kita. Berat melakukannya tapi ringan hisabnya di hadapan Allah kelak. Semoga Allah lindungi kita dari kedustaan.

Tanggapan Rizka Mutia Pratiwi:
maaf bu, nyambung pertanyaan mba dwi.. sekalipun istrinya punya pnghasilan sndiri? misalnya pd wanita karir?

Jawaban:
Sekalipun istri memiliki karir dan penghasilan sendiri, ridha suami lebih utama dari semua itu. Bila bekerjanya atas izin suami maka perginya menjadi sarana penambah amal shalihnya, namun bila suami tidak mengizinkan untuk bekerja, maka setiap langkahnya semakin menambah amal salahnya alias dosa.

Tanggapan Rizka Mutia Pratiwi:
masya Allah.. trima kasih ya bu atas sharingnya.. insya Allah bermanfaat, mnjadi pengingat agar qt sbg istri dlm melangkah slalu diridhoi oleh suami.. krn ridhonya suami adlh ridho Allah.. ya kan bu.. jazakillah… 🙂

Jawaban:
Sama-sama Mba Rizka kita wajib saling menasehati agar dimasukkan Allah ke dalam golongan hamba2NYA yg beruntung

Tanggapan Riswur Yanti:
Alhamdulillah dpt ilmu yg sgt bermanfaat utk bekal nanti….jg belajar dr pertanyaan2 uktifillah lainnya..syukron utk Ibu Hani Hendayani

HIKMAH DARI WORTEL, TELUR, DAN KOPI.


Seorang wanita yg baru saja menikah, datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya.

Setelah pesta pernikahan, baru ia tahu karakter asli sang suami: keras kepala, suka bermalas-malasan, boros, dsb.

Wanita muda itu berharap orangtuanya ikut menyalahkan suaminya. Namun betapa kagetnya dia karena ternyata ibunya diam saja. Bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur, sementara putrinya terus bercerita dan mengikutinya.

Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama, air mendidih. Sang ibu menuangkan air panas mendidih itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan.

Di gelas pertama ia masukkan TELUR.

Di gelas kedua, ia masukkan WORTEL.

Dan di gelas ketiga, ia masukkan KOPI.

Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya:

WORTEL yg KERAS menjadi LUNAK,

TELUR yg mudah PECAH menjadi KERAS,

dan KOPI menghasilkan aroma yg HARUM.

Lalu sang ibu menjelaskan:

“Nak, MASALAH DLM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH. Namun, bagaimana sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya.

Kita bisa menjadi:
Lembek seperti wortel.
Mengeras seperti telur.
Atau harum seperti kopi.

Jadi, wortel dan telur bukan mempengaruhi air.. mereka malah berubah oleh air, sementara kopi malah mengubah air, membuatnya menjadi harum.”

Dalam tiap masalah, selalu tersimpan mutiara iman yg berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan ‎​​اَللّهُ seolah tidak kunjung datang?

Hari ini kita belajar ada 3 reaksi orang saat masalah datang. Ada yg menjadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihani diri sendiri. Ada yg mengeras, marah dan berontak pada ‎​​اَللّهُ. Ada juga yang justru semakin harum, menjadi semakin kuat dan percaya padaNYA.

Ada kalanya ‎​​اَللّهُ sengaja menunda pertolonganNYA. Apa tujuannya? Agar kita belajar percaya dan setia! Karena tidak pernah ada masalah yg tidak bisa ‎​​اَللّهُ selesaikan, tapi kita-lah yang menyelesaikannya.

Oleh karena itu Nak, semua kembali kepadamu. Apapun pilihanmu dalam bersikap hendaklah disertai rasa tanggung jawab karena kelak engkau akan dihisab.

Sebuah renungan pagi yang mencerahkan hari, diterima melalui bbm di sabtu pagi, 10/09/11 jam 08.41

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Bahagianya Merayakan Cinta


Baarakallaahu Laka wa Baarakallaahu ‘Alaika, wa Jama’a Bainakumaa fii Khaiir

Maka jadilah tiga perayaan cinta:
1. Merayakan cinta dengan barakah dalam hal-hal yang kita sukai
2. Merayakan cinta dengan barakah pada hal-hal yang tidak kita sukai
3. Merayakan cinta dalam penyatuan sejati, penyatuan dalam kebaikan

Barakah, bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu.

Barakah, kepekaan untuk bersikap benar menghadapi masalah.

Barakah, semakin dekatnya kita pada Rabb, semakin akrabnya kita dengan Allah.

Barakah, dua kendaraan yang ia tak peduli harus menunggang yang mana: shabr dan syukr.

Barakah, keajaiban yang hanya terjadi pada orang beriman.

Dalam sebuah pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Bahwa apapun kondisinya, kemuliaan di sisi Allah bisa diraih. Apapun keadaannya pernikahan adalah keindahan dan keagungan, kenikmatan dan kemuliaan, kehangatan dan ketinggian. Jika sdan hanya jika senantiasa membawanya kepada makna barakah.

Di saat apapun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad.

Barakah itu memberi suasana lain da mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang sedang membadai rumahtangga kita.

Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik.

Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan.

Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

Sesudah menikah, semoga barakah hidup kita semakin bertambah.

Barakah mengasah rasa, menempa jiwa, memberikan sebuah dunia yang kadang tak tertembus penglihatan manusia biasa.

Pada tataran apapun, barakah menghadirkan dunia yan tak tertembus oleh mata kasat kita. Barakah telah menghapus ukuran-ukuran dan standar-standar yang kita pakai untuk mendefinisikan apa itu ‘bahagia’. Barakah bekerja mewujudkan rasa agung itu pada semua tataran, dari urusan besar hingga yang kecil-kecil.

Kunci barakah itu ada pada keimanan dan ketakwaan. Keimanan yang meyakinkan kita untuk terus beramal shalih menurut apa yang telah dituntunkan Allah dalam setiap aspek hidup, semuanya. Dan ketaqwaan, yang mengisi hari-hari kita dengan penjagaan, kepekaan, dan rasa malu bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah.

Bahagianya merayakan cinta bisa dibagi dalam tiga perayaan:
1. Cintamu sehangat ciuman bidadari
2. Dalam badai, dekaplah aku lebih erat
3. Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta.

Disarikan dari buku “Bahagianya Merayakan Cinta” penulis: Salim A Fillah. Sebuah buku yang sangat inspiratif dan kaya dengan sentuhan cinta. ******

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Belahan Jiwa


Isya sudah berkumandang merdu. Malam kian tegas menampakkan pekatnya. Sengaja ku isi malam ini dengan menulis. Ada luahan rasa tak terbendung yang kuingin ikat dalam untaian kata.

Malam cukup pekat, tapi hatiku bercahaya terang benderang bak siang nan bersih dari payungan awan. Gelapnya malam tak mampu menggelapkan hatiku.
Pekatnya malam tak mampu menutupi hatiku.
Ada sebuah cahaya disana…
Ada cinta yang menerangi setiap lapisan hati..
Ada kasih yang menerobos jendela jiwa…
Ada satu nama yang menjadi sumber cahaya cinta dan kasih…

Satu nama yang bila kita ucapkan maka surga menjelma dalam angan
Satu nama yang bila kuucapkan, jarak yang jauh melekat dalam ingatan
Satu nama yang bila anak-anakku yang memanggilnya, yang muncul adalah pekik senang dan rindu jalan-jalan
Satu nama yang bila orangtuaku yang menyebutnya, maka diet yang gagal selalu jadi alasan
Satu nama yang senantiasa menjadi tempat sandaran dari keluarga besar

Malam ini…mungkin tak ada seorangpun yang menyertaimu, tapi hadirmu senantiasa kami rasakan.
Dalam jauhnya jarak, cinta dan kasih sayangmu menyiram sejuk hati-hati kami dengan perhatian.
Aku tidak tahu persis apa sedang kau lakukan, belahan jiwaku. Tapi aku tahu persis apa yang kulakukan! Dan aku melakukannya untukmu, sebab syukurku pada Allah.

Atas kehendak Allah, kita dipertemukan. Takdir-NYA menyatukan kita dalam sebuah ikatan yang kokoh. Dengan perjalanan waktu yang Allah gulirkan atas kita, tampaklah kesejatian diri dengan telanjang. Aku menerima sepenuhnya dirimu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada sebagaimana dirimu menerimaku tanpa syarat. Jarak memang telah memisahkan kita tapi tak mampu mendindingi hati kita. Bahkan kata seringkali tak diperlukan karena hati kita berbicara dengan bahasanya yang melampaui makna sebuah kata.

Syukur yang mendalam atas hadirnya dirimu dalam kehidupanku, belahan jiwa. Luasnya hatimu mampu memberikan ruang yang lapang untuk kekurangan, kelalaian maupun kesalahan yang pernah kulakukan. Besarnya cinta dan kasih sayangmu menghidupkan rindu tak berkesudahan.

Semoga bertambahnya usiamu, semakin mengokohkan kepemimpinan dalam diri, keluarga, pekerjaan dan kehidupan.

Semoga kesempatan yang masih tersisa menjadi peluang bertambahnya keta’atan dan meluasnya kemanfaatan.

Semoga rahmat, hidayah, inayah serta ‘afiyah dari Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menaungi setiap jenak yang masih tersisa.

Semoga Allah mempersatukan kita dan keluarga di dunia dan di akhirat kelak. Allahumma amin.

Posted with WordPress for BlackBerry.