Seorang Ibu yang Bijak


Seorang anak bertanya kpd Ibundanya :

“Ibu temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang supaya nyamuk itu tidak menggigit anaknya. Apakah Ibu juga lakukan hal yang sama…?”.

Sang Ibu tertawa “Tidak..! Tapi Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam, supaya nyamuk tidak sempat menggigit siapapun”.

“Oh iya, aku baca tentang seorang Ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Akankah Ibu lakukan hal yang sama…?”, si anak kembali bertanya.

Dengan tegas Ibundanya menjawab “Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar”.

Sang anak tersenyum…

“Aku bisa selalu bersandar padamu Ibu…”.

Sambil memeluknya si Ibu berkata : “Tidak Nak!. Tapi ibu akan mengajarimu berdiri kokoh diatas kakimu sendiri, agar kau tidak harus jatuh tersungkur ktika ibu harus pergi meninggalkanmu”.

Pesan Moral:

“Seorang Ibu yg bijak bukan hanya menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi yang bisa membuat sandaran tersebut tidak lagi diperlukan.”

Dikutip dari bbm grup New Kebon Maen di suatu minggu siang, 30 Januari 2012, pukul 12.40.

Aku Ingin Anakku…….


Aku ingin anakku…..tak seperti aku.

Ya, aku dengan ketidaktahuanku…….dulu sekali…..
Masa kecilku yang indah nan membekas dalam bagai sebuah prasasti di hatiku
Indah untuk dikenang, namun tak ingin terulang….

Anakku harus dan wajib lebih baik dari aku…..

Seperti sebuah buku yang setiap babnya punya lakon tersendiri. Setiap helainya tercatat abadi menjadi saksi atas semua peristiwa yang terjadi dan pengaruh yang ditimbulkannya terhadap diri, hidup dan kehidupan, dalam rasa, dalam jiwa, dalam ingatan. Hingga akhirnya pelan tapi pasti membentuk konsep diri, cara berpikir, perilaku, budaya dan tujuan hidup. Demikianlah masa lalu menuliskan sejarahnya untuk setiap diri.

Aku pernah menangis karena takut ketika awal masuk taman kanak-kanak dulu. Boleh jadi, ketakutan itu muncul karena aku belum merasa siap untuk bergabung dengan teman-temanku. Semua serba baru, lingkungan baru, teman baru, guru baru, pengalaman baru. Rasa tidak percaya diri juga seringkali membuatku ragu untuk mengekspresikan diri. Rasa malu telah mengalahkan keberanianku untuk maju. Hingga aku diminta ke depan untuk maju dan memberi contoh ketika pelajaran menari. Beruntungnya aku saat itu, karena guru yang mengajar tari adalah Pak Endang, tetanggaku. Aku tidak tahu, apakah ditunjuknya aku ke depan karena ia mengenalku atau karena aku cukup berbakat sehingga bisa dijadikan contoh bagi teman-temanku, aku tidak tahu! Terimakasih Pak Endang, semoga Allah memberi tempat terbaik untuknya di sisi-NYA. Atas jasamu aku merasa menjadi lebih berarti.

Dari pengalamanku yang sederhana ini, aku belajar untuk mendengar anak-anakku. Mengenali perasaan mereka, satu demi satu. Memahami dan berempati untuk setiap rasa yang mereka miliki, walaupun bukan sebuah upaya yang mudah dan butuh kepekaan tersendiri. Seperti yang terjadi saat ini pada kedua dari tujuh anakku, Salima dan Safira. Mereka berdua lahir pada tanggal yang sama, di jam yang berbeda hanya beberapa menit saja. Walaupun demikian, masing-masing berasal dari dua sel telur dan sel sperma yang berbeda-beda. Hasil USG menunjukkan usia janin mereka ketika masih dalam kandungan berbeda sekitar dua minggu. What amazing!!! Aku sendiri seringkali terpesona dengan kenyataan yang ada…tapi itulah Allah dengan segala kekuasaan-NYA…subhanallah.

Kembali tentang Salima dan Safira, banyak yang sulit membedakan keduanya. Mereka berbeda tapi terlihat sama. Mereka sama tapi sesungguhnya berbeda. Demikianlah mereka, waktu, jarak, ruanglah yang membuat mereka berdua seperti sama walau berbeda atau seperti berbeda tapi sama. Bingungkan?! hehehe….orang yang tidak mengenal mereka atau bahkan yang mengenalpun kerap menyebut mereka berdua dengan si kembar.

Saat ini usia Salima dan Safira memasuki empat tahun tiga bulan. Kebanyakan anak seusia mereka mungkin sudah mulai bersekolah. Pada awalnya, aku pun ingin mereka seperti anak yang lainnya. Tetapi setiap aku tanya, “Salima mau sekolah?” Atau “Safira mau sekolah?” jawabannya tidak pernah sama. Terkadang “ya” seringkali juga “tidak”. Suatu kali aku mencoba untuk melakukan test atas kesiapan mereka bersekolah. Ketika berangkat dari rumah, mereka berdua tampak senang dan siap. Salima dengan cukup mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan psikolog yang akan menilainya. Subhanallah…..Salima berhasil dengan sangat baik melakukan semua yang diminta untuk dikerjakan dan psikolog menyatakan ia siap untuk sekolah di TK A. Akan halnya Safira….yang dalam hal menyesuaikan diri di lingkungan yang baru berbeda kecepatannya dengan Salima, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menghadapi bahkan mengerjakan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh Salima. Padahal tak ada kesulitan yang berarti untuk Safira bila melakukannya di rumah.

Setelahnya aku mendiskusikan hasil mereka berdua dan saran yang aku terima dari psikolognya…untuk mereka berdua jangan dipisahkan dulu dan masih butuh waktu untuk mempersiapkan mereka agar bisa bersekolah. Kepada Salima, aku bertanya, “Salima mau sekolah?” dengan wajah murung ia menjawab, “nggak!” Penasaran dengan alasannya aku bertanya lagi, “Kenapa?” Jawabnya, “Nanti Safiranya nangis…” Subhanallah…., basah hatiku dibuatnya. Salima kecil, terimakasih…. Salima sudah mengajarkan pada Ummi untuk lebih peduli pada gejolak jiwa Safira. Kucium dan kupeluk erat Salima, guru kecilku yang bijak dan lucu. Ku peluk dan ku cium juga Safira serta meminta maaf padanya karena aku sudah memaksakan hal yang belum siap ia lakukan. Aku memutuskan untuk menunda waktu sekolah mereka sampai tiba saatnya mereka berdua merasakan bersekolah itu menyenangkan.

Masa kecil yang indah yang tak lekang oleh waktu, terpatri kuat dalam ingatan, terpendam dalam mengukir goresan di hati dan membekas di jiwa….. Aku ingin Salima dan Safira mengingatnya dengan hati yang berbunga dan mata nan memancarkan cahaya bahagia agar mereka memiliki gambaran yang indah tentang hidup, harapan yang besar pada Pencipta kehidupan dan jiwa yang siap dan percaya pada ketetapan terbaik atas mereka.

Duhai Allah Yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam keta’atan kepada-MU.

Untukmu Anakku…..


Nak..

Ibu tak punya banyak cerita untuk hidupmu,
tapi Ibu punya pesan yang ingin disampaikan
untuk hidupmu..

Esok jika engkau tak lagi di sisi Ibu,
ketahuilah nak..
bahwa dunia ini…
tak selembut belai yang pernah engkau rasa,
tak sehangat keluarga yang pernah engkau punya.

Tapi yakinlah nak..
jika engkau menjaga-Nya di hatimu
maka Dia akan menjagamu juga dalam perlindungan Maha Kuat.
Jika engkau mencintai-Nya
maka Dia akan mbuat makhluk-Nya mencintaimu juga.

Esok jika engkau tak lagi di sisi ibu,
ketahuilah nak..
ada beragam orang yang akan engkau temui
dan mereka punya sisi indah sendiri
yang bisa engkau nikmati.
Jangan jauhi mereka karena kekasarannya
karena ketika itu engkau akan belajar untuk kuat.
Jangan jauhi mereka karena kelemahannya
karena ketika itu engkau akan belajar untuk lembut. Jangan jauhi mereka karena kuasanya
karena ketika itu engkau akan belajar untuk bijak,
dan jangn jauhi mereka karena ketidakberdayaannya karena ketika itu engkau akan blajar untuk bangkit.

Nak..
jadilah pembelajar sejati
yang menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai tanda.
Engkau tak harus duduk di belakang meja untuk belajar banyak hal
karena kebanyakan hal yang harus engkau pelajari
sudah disediakan-Nya di sekitarmu.

Jika esok engkau berkenalan dengan pencopet
maka belajarlah untuk bergerak lincah.
Jika esok engkau berkenalan dengan maling
maka belajarlah tepat waktu.
Jika esok engkau berkenalan dengan koruptor
maka belajarlah tentang taktik dan loby.
Jika esok engkau berkenalan dengan teroris
maka belajarlah untuk teliti dan hati-hati.
Jika esok engkau berkenalan dengan pandai besi
maka belajarlah untuk tekun.
Jika esok engkau berkenalan dengan prajurit-Nya
maka belajarlah untuk istiqomah.

Itulah hidup,
selalu indah jika engkau bisa menemukan sudut terbaik untuk engkau menatap..
dan ketahuilah nak
bahwa Rabb adalah ‘pendidik’ Maha Pintar
yang bisa menjawab semua tanyamu,
semua ragumu
dan semua rasa ingin tahumu.

Percayalah nak…
Dia mennjadikan semua itu
sebagai media pembelajaran
sebagai alat untukmu belajar memilah
bahwa dari satu entitas
ada hal yg Dia sukai dan hal yg Dia benci..
jadi ambillah apa yg Dia ingin untuk kau pelajari
dan tinggalkan apa yg tidak Dia sukai.

Ingatlah!
bahwa Dia tidak menciptakanmu
kecuali….
untuk menyembah-Nya.

Sebuah bbm pagi yang menyejukkan hati di sebuah taman surgawi yang Allah janjikan naungan sayap-sayap para malaikat-NYA yang terus menyenandungkan maghfirah kepada siapapun yang berada di dalamnya, walaupun ia hanya sekejap saja.

Facebook Status Anak Kita


Harry Santosa > Millenial Learning Center

Rabu, 23 November 2011
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.

Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.

Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di Facebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.

Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.

Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.

Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.

Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka

Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.

Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.

Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.

Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status Facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.

Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.

Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi
Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.

Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.

Pacaran Online Pun Terjadi

Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.

Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.

Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.
Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).

Wallahu a’lam bishawab
Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting
Diambil dari website Hidayatullah.com

Bahagiakan Mereka, Nyalakan Semangatnya


Tidak ada anak yang bodoh. Kitalah yang tidak mengerti bagaimana merangsang kecerdasan dan menggairahkan minat belajar mereka

TIDAK ada anak yang bandel. Kitalah yang tidak tahu bagaimana mengajak bicara, menyemangati, dan memberikan arah hidup bagi mereka. Kitalah yang lupa untuk bermain bersama, bercanda, dan bercerita agar hati mereka dekat dengan kita. Padahal kita tahu kedekatan hati itulah yang membuat anak akan mendengar kata-kata kita.

Setiap anak–asal normal—lahir dalam keadaan jenius dan penuh rasa ingin tahu. Kitalah yang mematikannya dengan hadiah-hadiah, bahkan di saat mereka tidak menginginkannya.

Kita lupa bahwa anak-anak pada awalnya tidak memerlukan hadiah untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Tanpa hadiah, anak-anak tetap bersemangat belajar merangkak dan berjalan, meski harus beberapa kali tersungkur.

Anak-anak tidak pernah meminta uang untuk satu kosa kata baru yang mereka kuasai di waktu kecil. Mereka belajar karena ingin tahu. Mereka melakukan hal-hal besar yang bermanfaat karena bersemangat. Bukan karena menghindari hukuman. Bukan juga untuk mengharap imbalan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat semangatnya menyala-nyala sesudah kita berkali-kali mematikannya? Apa yang bisa kita perbuat agar anak-anak memiliki semangat berkobar-kobar?

Kasih Sayang

Mari kita lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sepanjang yang saya ketahui (ingatkan kalau keliru), Rasulullah tidak menggunakan dinar dan dirham untuk merangsang anak-anak berbuat baik. Tetapi anak-anak itu bersemangat karena Rasulullah memberi perhatian dan waktunya untuk menggembirakan hati. Rasulullah bercanda, bermain-main, bersikap lemah lembut, dan melimpahkan cinta kasih yang tulus kepada anak-anak.

Pernah Rasulullah menggendong cucunya, Umamah putri Zainab. Padahal ketika itu beliau sedang shalat.

Abu Qatadah berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW, sedangkan Umamah binti Abi Al-Ash berada di atas bahu Rasulullah (digendong). Lalu beliau shalat. Ketika beliau rukuk, maka Umamah diletakkan, dan ketika beliau bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat.” (Riwayat Bukhari)

Sebuah pelajaran penting tentang betapa besar nilai kasih sayang bagi proses pendidikan (tarbiyah) dan pembentukan karakter anak-anak (ta’dib). Begitu pentingnya, sehingga saat shalat pun diizinkan untuk menggendong anak yang masih kecil agar hilang rasa susahnya dan gembira hatinya.

Betapa besar nilai kedekatan kita dengan anak-anak bagi proses penanaman nilai tauhid dan pembentukan sikap religius, sehingga Rasulullah pun pernah memendekkan shalatnya karena terdengar tangisan anak. Sayangnya hari ini, hanya karena kita tidak bisa shalat dengan khusyuk, anak-anak kita halau dari masjid dan tempat kita shalat.

Kita suruh anak-anak pergi jauh-jauh hanya karena mereka bergembira di masjid; berteriak-teriak, berlarian ke sana kemari, dan menirukan gerakan shalat kita dengan antusias dan jenaka. Kita larang anak-anak kecil masuk masjid karena tidak ingin mendengar tangisnya. Kita lupa bahwa Rasulullah memendekkan shalatnya bukan karena terganggu tangis anak-anak, tetapi agar ibu anak itu tidak risau. Sungguh, sangat berbeda akibatnya dalam tindakan jika kita salah menyimpulkan.

Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW berkata, “Aku mulai shalat dan ingin memanjang shalatku. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, sehingga aku pendekkan shalatku, karena aku tahu bahwa ibunya sedih mendengar tangis bayinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Qatadah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda, “Ketika shalat, aku bermaksud memanjangkan bacaan. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, lalu aku pendekkan shalatku khawatir akan memberatkan ibunya.” (Riwayat Bukhari)

Rasulullah memilih untuk memendekkan shalatnya. Bukan melarang ibu tersebut membawa anaknya ke masjid di waktu-waktu berikutnya. Sungguh, ributnya anak-anak saat kita sedang shalat jauh lebih baik daripada jauhnya hati mereka dari agama Allah yang haq ini.

Alangkah mulia Nabi, dan alangkah jauh kita yang hidup sekarang ini. Saya ingin berbicara tentang ini lebih panjang lagi, tetapi saya harus kembali pada perbincangan di awal. Bukan dinar, bukan dirham, dan bukan pula hadiah-hadiah yang membuat anak-anak bersemangat. Tetapi kedekatan hati.

Bahagiakanlah, Muliakanlah

Bahagiakanlah mereka, insya Allah di dada mereka akan ada semangat yang menyala-nyala.

Muliakanlah, insya Allah mereka akan memuliakan dan mendengar kata-kata kita.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hati diciptakan dengan karakter yang mencintai orang yang memuliakannya dan membenci orang yang menghinakannya.”

Kita bisa belajar dari nasihat Ibnu Mas’ud. Pertama, muliakanlah anak dan bahagiakan mereka, niscaya mereka akan memuliakan kita, mendengar kata-kata kita, dan mengarahkan dirinya untuk menjadi seperti “yang seharusnya”. Bagaimana seharusnya mereka, sangat berkait dengan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Kedua, kenalkanlah kemuliaan Allah, sifat pemurah, dan keagungan Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, insya Allah mereka akan lebih dekat hatinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan membebani dengan perintah-perintah untuk tunduk kepada-Nya agar mereka disayang dan doa-doa dikabulkan. Sebab, manusia cenderung memuliakan yang memuliakannya. Bukan mengagungkan kepada yang membalasi kebaikannya.

Bukankah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Menciptakan dan Yang Maha Pemurah pada firman-Nya yang pertama kali turun? “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

Alhasil, ketika anak-anak kita ajari berdoa, mereka yakin bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak sia-sia berdoa kepada Yang Maha Baik. Justru karena mengetahui Allah Maha Pemurah, insya Allah mereka lebih sungguh-sungguh berharap dan meminta.

Sayangnya, selama ini kita lebih sering memperkenalkan Allah dengan cara yang menyeramkan. Kita ajari mereka berbuat baik dan berdoa seolah-olah Allah tidak akan menurunkan rahmat dan nikmat-Nya kecuali setelah kita berbuat baik. Lalu, bagaimana mungkin kita berharap mereka menjadi orang-orang yang bersyukur dan bersungguh-sungguh mengelola hidupnya jika cara awal kita sudah salah?

Astaghfirullahal-‘adziim. Agaknya, banyak sekali kesalahan yang kita lakukan terhadap anak-anak. Agaknya kita perlu meminta keikhlasan mereka untuk memaafkan dan memperbaiki cara kita mendidik, agar kelak mereka tak menyesal mempunyai orangtua seperti kita.

Waktu, Bukan Uang!

Saya teringat ucapan Garry Martin dan Grayson Osborne. Psikolog dan penulis buku Psychology Adjustment and Everyday Living ini berkata, “Manfaatkanlah waktu yang ada. Pertama, janganlah mempunyai anak bila Anda tidak punya waktu untuk mereka. Kedua, jika Anda punya waktu, perhatikanlah waktu itu dengan serius. Inilah waktu untuk saling memahami, untuk mendukung perilaku kecil yang Anda setujui dari tingkah laku anak-anak Anda. Jauh lebih baik lagi jika Anda memberikan dukungan itu segera ketika hal-hal kecil itu terjadi.”

Ya……, waktu! Bukan uang. Bukan benda-benda. Waktu untuk memberi perhatian, berbincang bersama, memberi kehangatan, bercanda, waktu untuk menyampaikan pesan dengan cara yang bersahabat dan penuh kehangatan, serta waktu untuk bermain dan bersujud bersama.

Inilah yang diberikan oleh Rasulullah kepada anak-anak. Rasulullah bercanda, bermain kuda-kudaan, dan memberi julukan-julukan yang baik kepada anak. Inilah yang membuat anak-anak di masa itu tumbuh sebagai pribadi penuh percaya diri dan bersemangat tinggi.

Selebihnya, kita bisa memberikan hadiah kepada anak-anak bukan sebagai perangsang agar berbuat baik, melainkan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Ini berarti menuntut cinta tanpa syarat. Kita berikan hadiah kepada anak-anak secara adil dan merata, sehingga mereka merasakan betapa orangtuanya sangat pemurah dan memuliakan. Kita beri hadiah karena mencintainya, bukan imbalan atas apa yang mereka kerjakan.

Jika kita berikan hadiah karena mereka berbuat baik, lalu mana yang menunjukkan tulusnya cinta kita kepada mereka? Atas dasar apa kita menuntut yang lebih dari mereka? Bukankah pemberian kita merupakan harga yang pas atas tindakan mereka?

Astaghfirullahal-‘adziim. Alangkah banyak kekeliruan kita. Alangkah sedikit ilmu yang kita siapkan untuk membangun satu generasi. Padahal dari generasi itu, barangkali akan menentukan karakter generasi berikutnya hingga beratus tahun sesudah kita tiada.

Ya Allah, ampunilah kami yang tak memiliki bekal apa-apa untuk menjadi orangtua.

Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dengan memberikan kemuliaan kepada mereka.

Nak, maafkanlah bapakmu ini. Bersabarlah atas kebodohan dan kezhaliman orangtua kalian. Semoga kelak Allah meninggikan derajatmu dan memuliakanmu dengan surga-Nya yang tertinggi. Allahumma amin.

Oleh Mohammad Fauzil Adhim*
Sumber : http://www.hidayatullah.com — bersama Ambar Setyaningsih dan 2 lainnya.

Najwa Wafiyah Az Zahra


Tiba-tiba saja dini hari ini teringat sebuah nasyid…

Munajat

Album :
Munsyid : Nadamurni
http://liriknasyid.com

Tuhan
Kubisikkan kerinduan
Keinsafan
Pengharapan

Tuhan
Kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan

Bisikanku untuk-Mu
Munajatku mohon restu
Semoga cintaku bukan palsu
Pada desiran penuh syahdu
Gelombang lautan rinduku

Tuhan
Kubisikkan kerinduan
Keinsafan
Pengharapan

Tuhan
Kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan

Munajatku dalam syahdu
Merindui maghfirah-Mu
Mardhiah-Mu dalam restu
Harapan tulusnya hatiku

Kurindukan pimpinan-Mu
Keagungan-Mu dalam doaku
Kebesaran pada qudrat-Mu
Ia membina ruhaniku

Tuhan
Kubisikkan kerinduan
Keinsafan
Pengharapan

Tuhan
Kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan

Ujian kepahitan
Di dalam perjuangan
Padanya ada kemanisan
Ketenangan dan kebahagiaan
Padanya syurga idaman

Munajatku dalam syahdu
Merindui Maghfirah-Mu
Mardhiah-Mu dalam restu
Harapan tulusnya hatiku

Kurindukan pimpinan-Mu
Keagungan-Mu dalam doaku
Kebesaran pada Qudrat-Mu
Ia membina ruhaniku

Tuhan
Kubisikkan kerinduan
Keinsafan
Pengharapan

Tuhan
Kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan

Sebuah nasyid yang telah ada sebelum buah hatiku, Najwa Wafiyah Az Zahra, lahir.

Dulu…kami ingin menamainya dengan wafa, yang dalam bahasa arab berarti setia. Besar keinginan kami menjadikan buah hati pertama, tumbuh menjadi hamba Allah yang setia pada janjinya.

Ketika masih dalam kandungan, kami sibuk merencanakan dan membayangkan seperti apa wafa kelak. Saat itu, aku sangat ingin anakku menjadi pribadi yang ekspresif ketika berada di lingkungan sosial, namun memiliki kekokohan spiritual. Seorang anak yang bukan hanya bisa dekat dengan sesama tapi yang lebih penting dekat kepada Rabb yang telah menciptakannya.

Akhirnya…setelah bolak-balik buka kamus bahasa arab, suamiku menemukan sebuah nama lagi, Najwa, tepatnya. Dalam kamus bahasa arab, disebutkan beberapa makna, diantaranya bisikan rahasia, munajat. Dan dalam bahasa Persia, najwa memiliki arti bergairah.

Subhanallah…, saat itu kami merasa telah menemukan dua kata yang cukup tepat menggambarkan keinginan dan harapan yang ingin kami titipkan dalam diri buah hati pertama kami. Namun…kesulitan kami berikutnya saat itu adalah bagaimana merangkaikan dua kata, wafa dan najwa, menjadi satu kesatuan yang tepat, baik secara bahasa maupun makna yang dikandungnya.

Alhamdulillah, kami dipertemukan oleh seorang Ustadz sekaligus orang tua bagi kami. Kepadanyalah kami bertanya dan meminta pendapat beliau yang memang mumpuni. Atas saran beliau, maka kami perlu menambahkan satu kata lagi untuk menyempurnakan maknanya. Jadilah, Najwa Wafiyah Az Zahra, kami tetapkan sebagai nama sekaligus do’a bagi buah hati pertama kami, dengan harapan kelak akan mewujud sosok pribadi muslimah yang senantiasa bermunajat pada Rabb-nya dan setia akan janjinya dengan meneladani Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Kini…15 tahun berlalu… Wafa tumbuh menjadi seorang remaja putri seperti yang kami harapkan, bahkan atas izin Allah, telah cukup banyak menorehkan prestasi. Kepada Allah jua harapan terus kami tautkan agar taufik, hidayah, inayah, serta ‘afiyahNYA senantiasa membersamai langkahnya menggapai cita dan cinta-NYA.

Bila ingin mengenalnya lebih dekat, sahabat bisa mengikuti beberapa tulisannya di http://www.jurnalikan.blogspot.com

Mohon do’a untuk ananda menjelang operasi tulang belakangnya, semoga Allah melancarkan urusannya, memperbaiki keadaannya dan menjadikannya hamba yang senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat dan karunia-NYA. Allahumma amiin.

Jazakumullah ahsanal jazaa, sahabat hatiku.

dari Sahabat Hatimu, Hani Hendayani

Melatih Kejujuran dan Kesabaran Buah Hati dengan Puasa


“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Setiap amal perbuatan anak Adam merupakan miliknya, kecuali puasa, karena puasa itu milik-Ku dan Aku akan memberinya balasan. Puasa merupakan perisai. Ketika salah seorang di antara kalian berpuasa, ia tidak boleh berkata kotor dan tidak boleh bersuara gaduh, dan jika ada orang yang menghinanya atau mengajaknya berperang, katakanlah kepadanya, ‘Aku sedang berpuasa.’ Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kuasa-NYA. Bau mulut orang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari Kiamat daripada aroma minyak kesturi.” (HR. Bukhari; hadits sahih)

Demikianlah Allah menyampaikan firman-NYA dalam sebuah hadits qudsi tentang puasa.

Karena puasa adalah sebuah ibadah yang berkaitan langsung dengan kepemilikan Allah, maka kita sebagai orangtua perlu mengenalkan secara langsung buah hati kita dengan Allah. Bahwa Allah itu Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Penyayang.

Bukan karena perintah/paksaan mereka berpuasa tapi untuk berlatih menjadi seorang hamba yang mensyukuri hadirnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang rahmat nan istimewa.

Biarkan mereka berbicara jujur tentang rasa lapar dan haus yang dirasakan ketika berpuasa agar menjadi momentum emas untuk kita mengasah kepedulian mereka pada sesama dan mengajak mereka untuk belajar sabar yang berbuah pahala tanpa batas.

Berikan penghargaan atas kejujuran dan kesabaran dalam berlatih puasa dengan sanjungan bangga, pelukan hangat dan ciuman mesra pada mereka sebelum mengiming-imingi berbagai hadiah mempesona.

Berharap kejujuran dan kesabaran pada mereka menuntut kita, sebagai orangtua untuk terlebih dahulu jujur dan sabar pada diri kita sendiri akan peran kita sebagai hamba dan puasa yang kita lakukan untuk mendapatkan cinta dan keridhaan dari Sang Pencipta.

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Melatih Anak Puasa Sejak Dini


Suatu saat sahabat bertanya, “Kapan ya Rasulullah sebaiknya anak dilatih untuk shalat?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Ketika anak sudah dapat membedakan tangan kanan dari tangan kirinya.”

Dari sisi psikologis, kurang lebih usia 3, 3 1/2, 4 atau 4 1/2 tahun anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan kirinya. Hal ini berarti sudah bisa untuk berlatih puasa.

Terdapat juga riwayat yang mengisahkan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam yang memboyong anaknya yang sedang berlatih puasa ke masjid dan menghiburnya dengan mainan dari bulu domba, bila anak-anak tersebut merengek lapar.

Sikap kita sebagai orangtua harus yakin sepenuhnya ketika akan/sedang melatih anak puasa sejak dini. Kemudian kita sebagai orangtua harus menjadi teladan pertama dan utama dalam beribadah/berpuasa.

Langkah-langkahnya:
1. Persiapan ruhiyah
2. Persiapan fisik
3. Persiapan akal
4. Persiapan kegiatan selama anak puasa

Mulai dari kegiatan yang paling menyenangkan dari puasa yaitu berbuka. Merencanakan menu favorit bersama-sama, menyiapkan berbagai kegiatan di rumah atau di masjid yang terdekat bersama anak-anak tetangga kita. Berkunjung ke panti asuhan yatim piatu dan dhu’afa. Bahkan berolahraga menjelang berbuka.

Melatih anak di usia dini lebih baik karena anak siap belajar apa saja dan mempercayai apa yang dikatakan orangtuanya/gurunya.

Melatih anak puasa bukan untuk berbangga-bangga tapi untuk pembiasaan dan juga pondasi ibadah di masa yang akan datang sehingga ketika tiba masa baligh, anak-anak sudah mantap dan mapan ibadahnya.

Insya Allah anak akan siap untuk menghadapi tugas kehidupan yang lebih berat di masa dewasanya.

Mari kita sambut Ramadhan yang akan menjelang dengan penuh suka cita dan cinta, biaskan cahaya kemuliaannya ke sekeliling kita, raihlah rahmat, maghfirah-NYA bersama keluarga tercinta.

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Seorang Ibu Sebuah Dunia Berjuta Cinta


Karena cinta, seorang Ibu rela menggendong janin yang dikandungnya selama 9 bulan atau 40 minggu atau 280 hari atau 672 jam atau 40320 menit atau 2419200 detik, tanpa terputus, dalam duduk, berdiri, berjalan, bekerja maupun dalam tidurnya. Merasakan sakit, mual, muntah, gelisah, tidak nyaman sepanjang kehamilannya.

Karena cinta, seorang Ibu bersedia menahan hasrat makannya dari berbagai jenis makanan dan minuman yang akan berdampak buruk pada janin yang dikandungnya.

Karena cinta, seorang Ibu bersabar mengendalikan emosinya yang seringkali tak pasti karena pengaruh perubahan hormon dalam dirinya.

Karena cinta, seorang Ibu ikhlas mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan janin yang dikandungnya, merasakan sakit yang luar biasa serta mengerahkan seluruh upaya dengan menyandarkan diri pada pertolongan Sang Pencipta.

Karena cinta, seorang Ibu menyusui bayinya siang dan malam sekehendak hati sang bayi, memberikan makanan terbaik bagi buah hatinya, tanpa bosan, tanpa lelah dengan menahan kantuk di waktu malam selama 2 tahun lamanya atau 24 bulan atau 96 minggu atau 672 hari atau 16128 jam atau 967680 menit atau 58060800 detik.

Karena cinta, seorang Ibu menghajatkan dirinya untuk tak lepas dari do’a bagi buah hati nan dicinta agar senantiasa mendapatkan pemeliharaan, perlindungan dan kasih sayang dari Pemiliknya yang sejati.

Karena cinta, seorang Ibu siap melayani berbagai kebutuhan sang buah hati, menyediakan makanan terbaik, pakaian terbaik, pendidikan terbaik dan fasilitas hidup terbaik lainnya.

Karena cinta, seorang Ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan buah hatinya walaupun harus merelakan miliknya yang paling berharga tanpa meminta kembali atas semua yang telah dilakukannya.

Tulisan ini didedikasikan bagi para IBU, Sebuah Dunia Berjuta Cinta.

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

A Little to Dad


Sebuah kado sederhana yang tidak sederhana dari seorang anak di hari ulangtahun ayahnya.

A Little to Dad

Oleh Najwa Wafiyah Az Zahra

Terbangun di pagi hari, aku tiba-tiba teringat sosok yang jarang kutemui.
Dengan badan tegap, rela berpeluh keringat demi menyekolahkan anaknya.
Yang selalu, dan selalu berdoa untuk keluarganya.
Yang bijaksana memimpin keluarganya.
Walaupun hanya dua bulan sekali bertemu.
 
Tak banyak kata-kata yang bisa menjelaskan tentangnya.
 
Teringat awal sekolah dasar memaksaku menghafal perkalian.
Hingga aku menangis karena tidak bisa bermain.
 
Teringat awal sekolah menengah pertama,
Menjengukku setiap bulan di asrama.
 
Dan kini rintangan sebelum memasuki sekolah menengah akhir.
 
Aku bersyukur telah dipaksa menghafal perkalian olehnya.
Karena tanpa itu, aku tak mungkin lolos menjadi 2000 dari 3000 pendaftar.
 
Aku bersyukur telah dimasukkan asrama olehnya.
Karena tanpa itu, aku tak mungkin bisa jadi mandiri seperti sekarang.
 
Di jalan pulang, aku ditelpon olehnya.
Menanyakan proses tes masuk tadi.
Aku tak bisa menjawab,
Karena lelah seharian memutar otak menjawab beratus-ratus pertanyaan yang diberikan.

Dalam hati,
 
“ayah, selamat ulang tahun. Ini hadiah dariku, kerja kerasku menjawab semua soal tes hari ini. Aku sayang ayah..”

Posted with WordPress for BlackBerry.