Rinduku Sebelum Kau Pergi


Ramadhan kau bagai wanita cantik shalehah mempesona

Didekatmu ku takluk khusyuk mengingat-Nya

Kau mampu membuatku bersemangat menjalani kerasnya hidup fana

Karena kedekatan, keimanan, kepada-Nya, kebajikan karena-Nya, ingatan hari pembalasan-Nya membuatku tidak takut tanpa sedih hati

Ia yang Maha Kaya menjanjikan surga yang bahkan ku tak bisa bayangkan kenikmatannya

Ya, semangat ini karena kecantikanmu, kelembutanmu, kemurahanmu

Kau membangkitkan gairah tuk menjalani hidup selama-lamanya

Melewati batas usia yang fana

Menembus batas lemahnya manusia

Menuju jalan-Mu yang kutahu tak mudah kulalui

Karenamu ku berfikir, merenung

Dengan hasil peta jalan yang jelas

Jalan menuju-Mu

Peta jalan dengan rambu yang harus kupatuhi

Dengan bekal hanya dua, ketaqwaan dan kebajikan

Moga dapat kulalui kelokan, tanjakan, curamnya jalan, lubang yang menggelincirkan

Sampai ketujuan-Mu

Oh, inilah tawaran mesramu yang tak sanggup kutolak

Didekatmu ku mampu berkahayal tentang indahnya surga kekal abadi

Khayalan yang menjadi mimpi, menjadi niat, menjadi azzam, menjadi rencana, menjadi ikhtiar, menjadi doa

Selebihnya kupasrahkan pada-Mu, dengan penuh harap

Terimakasih wahai kekasih

Kau pantas kucinta

Kehadiranmu selalu membawa asa

Karenamu Ia memberikan tabungan berlipat-lipat

Lailatul Qodr memberi bekal yang kusendiri mungkin tak tahu ternyata bekal itu ada

Sungguh, kau bagai berucap “Kekasihku jangan bersedih, saat sempit kekurangan ini, kau tak mengira aku memiliki simpanan yang jauh lebih dari cukup”

Oh impianku,

Karena Kau ku mampu menikmati kedekatan dengan Qur’an

Bercengkerama dengan-Nya, menumpahkan gundah gulana, harapan

Sehingga petuahnya mudah meresap ke hati, tanpa penolakan

Banyak petuah

Meredam amarah menjadi kehangatan,

Menebar kebajikan

Lebih nikmat memberi daripada menikmati sendiri

Banyak pelajaran

Kesadaran Kau diatas segala kejadian

Ku akan meminta dalam doa

Banyak hikmah

Menyambung silaturahim

Adanya kaya dan miskin

Benar, engkau memberikan kesetiaanmu melayaniku mereguk petuah, pelajaran, hikmah

Tapi kau hadir dengan izin-Nya

Kau bermanfaat sebab rahmat-Nya

Kau cantik mempesona karena hidayah-Nya pada diri ini

Sungguh hatiku terikat padamu

Rinduku padamu bahkan sebelum kau pergi

Rindu dengan harapan

Rindu dengan tangisan

Rindu dengan kebahagiaan

Rindu dengan semangat

Kiranya Ia berkenan mendatangkan kecantikanmu, kelembutanmu,kemurahanmu dimasa datang

Agar dapat kureguk kenikmatan ruhaniah dalam perjalanan panjang menuju-Mu

Kutitip rinduku padanya, Ya Allah

Kutitip rindu pesona Ramadhan-ku

“Kalau bukan karena kelemahan jiwa menyambut kedatanganmu, niscaya dapat kutumpahkan pengalaman bermesra sepanjang jalan kehidupan”

Ihsanur, 30 Ramadhan 1432 H

Jazakallah Pak Ihsan untuk untaian indah tadzkiroh di penghujung Ramadhan. Semoga Allah mempertemukan kita semua di jannah-NYA sebab cinta dan rindu kita pada bulan nan istimewa.

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Iklan

Do’a Menuju Kemenangan


Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, Tiada ilah selain Engkau.

Engkau telah menciptakan kami, dan kami adalah hambaMu dan kami selalu berusaha menepati ikrar dan janji kami kepadaMu dengan segenap kekuatan yang kami miliki.

Kami berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatan kami. Kami mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepada kami; dan kami tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah kami lakukan. Karenanya, ampunilah kami. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau

Ya Allah, karuniakan kebaikan bagi kami dalam beragama, yang merupakan kehormatan bagi hamba.

Karuniakan kebaikan kepada kami di dunia, yg merupakan tempat kami menjalani hidup.

Karuniakan kebaikan akhirat bagi kami, yg merupakan tempat kami kembali.

Jadikan kehidupan kami senantiasa lebih baik. Jadikan kematian kami sebagai kebebasan kami dari segala keburukan.

Ya Allah, jadikan umur terbaik kami di penghujungnya, jadikan amal terbaik kami di penutupnya, jadikan hari terbaik kami saat bertemu dengan-Mu

Ya Allah berilah kami rasa takut pada-MU hingga kami menjauh dari maksiat.

Ya Allah berilah kami nikmat taat pada-MU yang mengantarkan kami menuju surga-MU.

Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia.

Jadikanlah pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami kenikmatan hidup yang Engkau berikan di dunia dan jadikanlah sebagai pusaka yang kami wariskan bagi generasi penerus.

Ya Allah, arahkanlah perlawanan kami atas orang yang menzalimi kami. Tolonglah kami dalam menghadapi orang yang memusuhi kami.

Janganlah Engkau biarkan kami terkena musibah dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan urusan dunia.
Janganlah Engkau biarkan kami merasa cukup dengan ilmu yang ada.
Dan janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah berilah kami rasa takut pada-MU hingga kami menjauh dari maksiat. Hanya dengan takut pada-MU kami akan dapat menghindar dari perbuatan maksiat, maka tanamkanlah qalbu kami rasa takut hanya kepada-MU.

Ya Allah, telah Engkau sediakan surga bagi orang-orang yang Engkau cintai, berilah kami nikmat ibadah dan taat yang mengantarkan kami mendapat cinta-MU hingga Engkau masukkan kami dengan rahmat-MU ke dalam surga.

Ya Allah, kami menyadari bahwa kehidupan dunia tidak pernah lepas dari ujian, baik yang pahit ataupun yang manis. Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia. Jadikanlah semua ujian yang kami hadapi jalan menuju kemuliaan di sisi-MU.

Ya Allah berilah kami kenikmatan menghayati firman-MU, menjiwai ayat-ayat-MU dan menggunakan semua kekuatab untuk berjuang membela agama-MU dengan istiqomah hingga ajal menjemput kami.

Ya Allah berilah kami tambahan ilmu agar semakin jelas di hadapan kami perbedaan antara yang haq dan bathil. Berilah kami ilmu yang bermanfaat bagi masa depan bangsa ini. Janganlah Engkau biarkan kami keliru dalam menentukan pilihan dan langkah yang mesti kami lalui.

Ya Allah, janganlah Engkau serahkan amanat kekuasaan selain kepada ahli ruku’ dan sujud yang membela agama-MU. Janganlah Engkau biarkan kami dikuasai oleh orang yang suka maksiat di hadapan-MU. Janganlah Engkau biarkan kekuasaan dipegang oleh orang yang tidak mengenal kitab suci-MU. Janganlah Engkau serahkan kekuasaan negeri ini selain kepada hamba-hamba yang Engkau ridhoi.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu permintaan terbaik, do’a terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik. Kuatkanlah kami, beratkanlah kebajikan kami, realisasikan keimanan kami, tinggikan derajat kami, terima shalat kami, ampuni dosa-dosa kami dan kami memohon surga yang tertinggi.

Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik yang mengabulkan setiap do’a. Bila bukan kepada-MU, kepada siapa lagi tempat kami meminta. Kabulkanlah ya Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Amin yaa Rabbal ‘alamin…

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Biarkan Fitrahmu Tetap Bermuara


Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih, Maha Teliti, Maha Pengatur dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang Maha Pengampun, Penangguh, Pemaaf, dan Maha Penghapus dosa-dosa hamba-hambaNya. Sholawat dan salam untuk Rosulullah Muhammad saw, beserta keluarganya, para sahabatnya, tabi’in dan para penerus risalahnya hingga akhir zaman.

Sebentar lagi tuntaslah perjalanan shoum Romadhon beserta paket-paketnya, insya Allah kita melakukannya dengan penuh kesabaran, ketenangan, ketekunan, keikhlasan, dan keimanan. Dengan harapan kita menjadi seorang hamba yang berhak merayakan sebuah kemenangan, menjadi pribadi yang TAQWA, dan menjadi pribadi yang FITRAH.

Namun tidak mudah bagi kita untuk mempertahankan KEMENANGAN bila dibandingkan dengan segenap upaya kita  untuk MENCAPAI KEMENANGAN itu. Banyak orang yang sudah menang lalu menjadi sombong, lupa diri, lupa berbagi, bahkan lupa jati diri.

Banyak orang berpikir Idul Fitri adalah puncak kemenangan kaum musilimin. Tapi sadarkah kita jika  Idul Fitri adalah puncak, maka biasanya setelah PUNCAK yang hadir adalah TURUNAN. Itu sebabnya, betapa banyak kaum Muslimin yang sudah berjuang 30 Hari di Bulan Ramadhan untuk meraih FITRAH, justru kembali kepada FITNAH. Selain TURUN kualitas amalnya, TURUN pula Kuantitas amal-amalnya.

Yang tadinya Sholat Malam Rutin, kini tak lagi Rajin. Yang Tadinya membaca Al-Quran penuh semangat, kini tak lagi antusias sebab dianggapnya sudah tamat. Yang tadinya Banyak sedekah dan berbagi, kini tak lagi sudi kecuali hanya sedikit sekali. Na’udzubillahi min dzalik. Itu sebabnya kemenangan sejati adalah HANYA milik orang-orang yang bertaqwa, bukan milik orang-orang yang tertawa ketika Ramadhan ditinggalkannya.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu mendapatkan kemenangan.
{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. An-Naba’ (78) : 31}.

Selama mutiara di hatimu masih kokoh bersemayam, tidak tergadai apalagi terjual, maka kemenangan itu selalu berulang, sebab mutiara itu obor harapanmu. Ibarat laskar yang pantang pulang sebelum kemenangan di tangan, membela mati-matian, terjatuh satu terbangun seribu. Ya, mutiara tetaplah sebagai mutiara dimana pun ia berada. Andalah Mutiara sang pemenang sejati. Dimana seorang pemenang tak pernah menyerah dan orang yang menyerah tak pernah menang.

Kemenangan sejati itu bersifat FITRAH. FITRAH itu Semula Jadi. Fitrah itu Keaslianmu diwaktu dulu. FITRAH itu kesejatianmu sebagai Abdullah dan Khalifah. Yakinlah, Setiap dirimu dihadirkan sebagai pemenang sejati. Walau tak selamanya engkau memenangkan petualanganmu, tapi yakinlah bahwa selamanya engkau adalah sang pemenang. Percayalah, melodi kemenanganmu masih terpelihara hingga kini. Tak masalah berapa kali Engkau pernah gagal, yang penting berapa kali engkau bangkit dari kegagalanmu.

Masih ingatkah, dulunya, dari sekitar setengah milyar sel spermatozoa yang terlepas bahagia, saat ledakan start lomba bersama purnama cinta, maka engkaulah satu-satunya yang bertahan, lantaran engkaulah sel spermatozoa yang paling sabar, paling tahu jalan, paling ikhlas, paling bertawakkal, paling bersyukur, paling mengerti tentang cinta, paling istiqomah, paling tinggi harapannya, sehingga engkau pun terus bergerak lincah bergairah menuju piala “ovum” yang tersedia hanya satu-satunya. Engkau tercipta sebagai sang pemenang sejak awal mula. Satu mengalahkan 500 juta. Maka bergeraklah terus untuk MEMPERTAHANKANNYA.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Insyiroh (94) : 7-8}

Engkaulah pemenang itu. Maka buanglah putus asamu, dan sambunglah kasih sayang dan sinergi bersama saudaramu. Bersilaturahimlah. Jangan ceraikan apapun yang sudah baik bersatu, terlebih hanya lantaran ada satu dua yang tidak setuju. Lebih baik bersatu dengan sedikit dosa, daripada sendiri dengan membawa bangga, lalu merasa paling suci. Percayalah, orang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, tapi orang terbaik adalah orang yang segera bersuci dan bertaubat ketika dosa tak sengaja itu mengurangi kualitas bening mutiara hatinya.

Satu pertanyaan yang perlu kita renungkan. Apakah kita sudah mendapatkan kembali sang FITRAH itu?

Secara sederhana,  FITRAH diawali huruf “F”, yang berarti “Furqon”. “I” kependekan dari “Ikhlas”. “T” berirama “Tawakkal”. “R” adalah “Rendah Hati”, lalu “A” adalah “Apa Adanya”, serta yang terakhir “H” melambangkan sebuah “Harapan”.

1. FURQON

Furqon artinya pembeda. Membedakan mana mutiara dari hati dan mana mutiara dari hawa. Pemisah antara yang benar dan salah, hak dan batil, Cahaya dan Kegelapan, sukses dan gagal, pemenang dan pecundang, iman dan ingkar, Annur dan Annaar.

Ketahuilah, kecerdasan tertinggimu adalah kecerdasan akan kemampuanmu dalam hal membedakan sesuatu. Seperti Nabi Ibrahim as., kecerdasannya bermuara kepada kemampuan kecerdasan spiritual, yakni membedakan mana Tuhan sesungguhnya dan mana Tuhan yang rekayasa. Untuk menjadi sang pembeda yang lihai, maka engkau tak cukup membuat perbedaan dalam tataran pikiran dan rasa saja. Untuk membedakan dengan cerdas dan tuntas, engkau pun harus mulai membuktikannya dengan langkah-langkah yang istiqomah. Bergairah.

Artinya, seringkali untuk menjadi cerdas dalam membedakan, engkau harus berani mencoba bertindak, bukan sekedar berani berpikir dan meyakini. Ingatlah, dua penyebab kegagalan sejati adalah : pertama, karena beriman tanpa bertindak, dan yang kedua, karena bertindak tanpa dilandasi keimanan. Keimanan adalah akarnya tindakan.

Tentu saja, Sejak kapan akar mengkudu berbuah durian? Sejak kapan keikhlasan berbuah keluhan? Sejak kapan cinta berbuah derita? Sejak kapan harapan berbuah putus asa? Sejak kapankah? Engkaulah yang memilihnya.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. At-Taubah (9) : 105}

Janganlah menjadi penakut dan hanya mau berada di tepi, di pinggiran, menjadi orang-orang yang meminggirkan diri. Sebab jika engkau menyendiri lantaran takut maka untuk apa kau gunakan RUH suci dari Tuhanmu itu?

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Hajj (22) : 11}

Ayo pilihlah. Biarkan fitrahmu tetap bermuara. Biarkan mutiara fajar itu bekerja. Tanpa pilihan maka kau yang akan dipilihkan, diperebutkan, ditarik-tarik, didorong-dorong, diobok-obok. Kau lah objeknya, kau lah targetnya, kau lah mangsanya.

Ingatlah bahwa Hidup ini adalah PILIHAN. Dan setiap Pilihan pasti mengandung Resiko yang tak bisa Anda pilih. Kalau Anda memilih Ikan paus maka resikonya bernama samudera, bukan selokan. Artinya, pelaut ulung tidak dilahirkan dari laut yang tenang. Layang-layang terbang tinggi karena berani melawan arah angin. Cita-cita besar akan dipaketkan dengan ujian dan resiko yang besar. Memilih itu memang tidak mudah, tetapi Tidak pernah Memilih jauh lebih menyulitkan lagi.

2. IKHLAS

Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Yunus (10) : 105}.

Engkau dikatakan tidak ikhlas jika : Engkau beramal karena orang lain, atau jika Engkau tidak jadi beramal karena orang lain. Dan engkau dikatakan tidak ikhlas jika mayoritas ucapanmu berisi keluhan dibandingkan kesyukuran.

Sudahkah engkau ikhlas dengan kehidupanmu saat ini? Adakah yang membuat hidupmu tidak bisa berjalan dengan ikhlas? Masalah-masalah kah yang telah membuatmu mempermasalahkan keikhlasanmu? Bukankah masalah-masalah itu yang tetap membuatmu hingga kini bertahan dan berTuhan?

Kadang masalah hadir lewat hembusan angin, kadang lewat amukan air, kadang lewat luapan api, dan kadang lewat retaknya bumi. Tapi itu semua hakikatnya hanya ilusi, eksternal masalahmu, tapi internal ujianmu. Semuanya kembali pada dirimu, pada fitrahmu, dimana sang mutiara fajar bersemayam.

Walaupun semua orang mengatakan bahwa engkau akan gagal, tapi jika engkau yakin bisa berhasil maka, insya ALLAH engkau pasti berhasil. Dan walaupun semua orang mengatakan bahwa engkau akan berhasil tapi engkau malah meragu, maka keraguan dan kegagalanlah yang akan kembali kepadamu. Famayya’mal mistqoola dzaarotin khoiroyyaroh, wamayya’mal mistqoola dzarrotin syarroyyaroh

Tidak ada yang berat, jika tenagamu cukup untuk mengangkatnya, bahkan menyelaraskannya. Sesendok garam bisa membuat air dalam gelas menjadi asin. Tapi tidak ada air yang asin, walau seratus sendok pun garam ditumpahkan, jika wadahnya selebar danau keikhlasan. Lapangnya dadamu.

Mulai hari ini, hindari do’a penuh keluhan “Wahai Allah, masalahku sangat besar”, tapi katakanlah “Wahai Masalah, Allah itu Maha Besar.” Nah, sebesar apakah masalahmu? Sebesar bumikah? Apakah “gara-gara” masalahmu sebesar bumi lalu engkau mengecilkan Allah dan kekuasaan-Nya? Astaghfirullahal’aziim…

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Baqoroh (2) : 45}

3. TAWAKKAL

Tawakkal artinya menyerahkan segala permasalahan hidupmu hanya kepada Allah, dari jiwamu yang terdalam. Allah lah tempat siapa pun berharap, menggantungkan harapan tertinggi dan semua. Paket dari Tawakkal adalah Azam, atau tekad kuat dan usaha yang mantap. Tawakkal tanpa ditemani tekad dan usaha adalah pasrah yang kebablasan. Ber-azam dulu, berencana dulu, berdo’a dulu, barulah engkau bertawakkal kepada Allah SWT seraya bersungguh-sungguh bergerak.

Kemudian apabila kamu telah ber-azam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Ali-Imron (3) : 159}

Apa yang sesungguhnya engkau butuhkan dalam hidup ini? Sudahkah kebutuhanmu selaras dengan sinergi dakwah semestamu. Apakah kebutuhanmu jika terpenuhi, sungguh tidak akan menjadikan dirimu lupa akan tugas utamamu. Sebagai Khalifah dan Abdullah.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Baqoroh (2) : 216}”

Mulai hari ini, percayakan saja sepenuhnya kepada-Nya setiap kebutuhan-kebutuhanmu, setiap sel dalam tubuhmu, satu-satunya ruh dalam jiwamu, dan setiap ujian cerca yang melandamu. Berserah dirilah dengan penuh. Bertawakkallah dengan sungguh.

Mulai hari ini, belajarlah untuk memberi lebih ikhlas dan tawakkal. Memberilah kepada manusia karena cintamu kepada Allah, dan memintalah kepada Allah agar engkau bisa memberi lebih banyak lagi. Salah satu ciri orang yang memiliki TAWAKKAL yang tinggi adalah hobinya untuk berbagi dan bersedekah.

Kaya itu Penting, Tapi Sedekah itu jauh lebih kaya dan abadi. Kaya di dunia dan kaya di akhirat. Jangan takut bersedekah karena miskin, dan jangan takut miskin karena bersedekah. Sedekah akan membuat engkau menjadi kaya, bahagia, dicintai Allah dan MakhlukNya. Itu sebabnya, Jangan pernah menunggu kaya baru engkau bersedekah, tapi bersedekahlah maka engkau menjadi kaya.

Begitupun, tak usah sungkan dirimu menginfakkan hartamu. Harta yang kau habiskan untuk hal yang sia-sia hanya akan menjadi beban Hisabmu di akhirat, tapi bersedekah akan membuat hartamu berkah dan menyelamatkanmu di alam barzah.

“… Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. ATH- THOLAAQ (65) : 3}

4. RENDAH HATI

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-A’raaf (7) : 166}

Jadikan dirimu sebagai pemenang yang rendah hati. Tidak usahlah kau tambah, sudah cukup banyak para pemenang yang arogan, walau tidak sedikit juga para pecundang yang justru lebih arogan. Memang sungguh Terlalu! Na’udzubillaahimindzaalik

Hanya sedikit pencetak gol yang lantas refleks sujud syukur setelah wasit memastikan kesahihan golnya. Kebanyakan mereka merayakannya dengan berteriak, menari, bahkan memamerkan sedikit aurat di perutnya; dengan demikian, berhasil membuat lawan yang tertinggal angka, menjadi resah dendam terpatri. Ingat sekali lagi, Gol itu bukan tujuan utama, tapi hanya percepatanmu menuju ketaqwaan. Kalau lantaran Gol tercipta lalu bolong jala ketaqwaanmu, maka segeralah kembali kepada jalan yang fitrah.

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah Dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Israa (17) : 83}

5. APA ADANYA

Sudahkah hari ini engkau melihat dunia ini apa adanya? Sudahkah engkau menerima keadaan dirimu, keadaan semestamu, lebih dan kurangnya, dengan apa adanya? Masihkah ada rasa tertekan, sumbatan energi dalam tubuhmu, ketika semestamu mempertontonkan rasa zalim yang menyakitimu? Pikirmu, bisakah seseorang menyakiti hatimu jika kau tak mengizinkan hatimu untuk tersakiti?

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. An-Naml (27) : 14}

Berkarakter “apa adanya” bukan berarti menyerah pada kezaliman yang ada. Lalu siap ditekan dan dizalimi sesama. Sekali lagi, Bukan berarti tertekan itu dipersilakan, tapi berdamailah dengan diri sendiri, selaraskan dengan normatif religi, lalu lebih kuat bersinergi tuk perbaiki semestamu itu dan ini. Buat apa tertekan, jika perasaan tertekan terbukti lebih berkonstribusi menambah masalahmu. Selaraskan jiwamu dengan nilai luhurmu, bukan selaraskan dirimu dengan nilai leluhurmmu atau realita terbaru. Tidak semua dari Leluhur itu luhur, dan juga tidak semua yang baru itu luhur; Yang luhur hanyalah yang “Apa adanya” tertera di dalam Al-Quran dan Sunnahnya.

Nilai luhur itu dari Tuhan, sedangkan realita itu sudah banyak rekayasa syaitan dan manusia arogan. Sekali lagi engkau harus memfilternya, dan berani memilih, memilah, bukan diam malah. Jangan menyerah dengan “apa adanya” yang salah, tapi berbahagialah dengan “apa adanya” yang fitrah.

Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Ali-Imran (3) : 146}

Para pemilik fitrah sejati pun memiliki kekuatan “Apa Adanya” dalam menerima risalah Islam. Berkarakter “Sami’na wa Atho’na”. Kami dengar, dan kami lakukan. Benar-benar menempatkan Al-Quran di atas seluruh aturan, dihormati dengan segenap, dijadikan subyek rujukan untuk kemaslahatan hidup manusia, kesejahteraan semesta. Ya, sebuah rujukan dan bukan rujakan.

Hari ini ada sebagian manusia karakternya sudah tidak “Apa adanya”, tapi lebih kepada “Ada apanya”. Mereka coba memilih-milih aturan Allah, memfilter yang sudah murni, menyaring dalam angan. Dan berusaha menyingkirkan aturan Allah yang sudah baku dengan berbagai dalih logika dan empati yang bernuansa musyrik sejati, ciptaan sendiri.

Mereka tidak menjadikan Al-Quran sebagai subjek, tetapi malah dijadikannya sebagai objek. Mereka tidak menjadikan Al-Quran sebagai rujukan, melainkan malah menjadikannya sebagai rujakan. Mereka potong ayat-ayat yang sudah ada, lalu mereka campur dengan bumbu kemunafikan, diolah dengan sambal kemaksiatan; sehingga ayat-ayat Al-Quran yang murni pun menjadi ternoda dan tercampur oleh suasana nafsu hati mereka. Pantas saja jika bumi, langit, dan seisinya rusak dan demam karena tindakan mereka dan orang-orang sejenisnya.

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan (Al-Quran) itu. {TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Mu’min (23) : 71}

6. HARAPAN

Sahabatku, insan taqwa yang dimuliakan oleh Allah SWT. Yakinlah bahwa para pemilik fitrah sejati selalu mempunyai harapan dalam hidupnya. Manusia tanpa harapan tidak ada bedanya dengan jasad mati yang bergerak tanpa Arruh dan Arah. Itu sebabnya, engkau harus memiliki banyak harapan, setidaknya satu, agar kau masih bisa bernafas.

“…Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Yusuf (12) : 87

Jangan pernah bunuh harapan yang masih bersemayam di jiwamu. Walaupun kini, harapanmu sepertinya kecil dan belum terwujud nyata, tetaplah bersyukur pada Allah SWT, karena setidaknya engkau telah memiliki harapan itu. Kalau lah harapan saja sudah tidak ada, maka apalah yang bisa diharapkan di dunia ini, apalagi di akhirat. Bersyukurlah dengan harapan yang ada, maka engkau akan ditambah kenikmatan dari-Nya. Bertubi-tubi, Mau? Berharaplah.

Masalah itu Lumrah. Masalah itu Hadiah. Maslah itu ujian dan cinta dariNya. Kalau engkau lari dari masalah maka engkau lari dari kasih sayang Allah. Masalah-lah yang membuat engkau tetap bertahan dan berTuhan. Masalah itu memang tidak enak, tapi ia melahirkan rasa enak. Lapar adalah masalah, tapi tanpa lapar kita tidak pernah menikmati makan. Sebagaimana tanpa haus kita tak pernah optimal merasakan nikmatnya sebuah minuman. Semakin lapar semakin enak makannya, semakin haus semakin enak minumnya, semakin banyak masalah semakin besar harapan mu dekat dengan Tuhan, dekat dengan Sumber Solusi. Teruslahlah bergerak dan berharap. Selama engkau tetap bergerak dan berharap pada Allah, maka sungguh dibalik Frustasi dan sesaknya dadamu, ada Prestasi sejati yang menantimu.

Harapan itu dihadirkan agar kita bisa melakukan yang terbaik dalam hidup yang sebentar ini. Tanpa harapan, maka tiada yang bisa diharapkan dari kehadiranmu di dunia ini. Jadilah manusia yang penuh dengan harapan, agar kehadiranmu di tengah semestamu selalu diharapkan. Dan harapan tertingimu adalah pertemuan dengan Allah SWT.

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.{TERJEMAHAN DATA SUCI Q.S. Al-Insyiroh (94) : 8}

WALLAHU A’LAM BISH-SHOWAB

Dikutip dari tulisan, Tim Kajian Dakwah Al Hikmah

Renungan di Penghujung Ramadhan…


Aku lihat RAMADHAN dari kejauhan… Lalu kusapa ia…”Hendak ke mana?” Dengan lembut ia berkata, “Aku harus pergi, mungkin JAUH & sangat LAMA.

Tolong sampaikan pesanku untuk orang yang bernama MUKMIN:

“Syawal akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya, peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, mintalah nasehat QUR’AN & SUNAH di setiap masalah yang dihadapi.:) 🙂

Sampaikan pula salam & terima kasih untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan derai air mata.:'( 😥
Kelak akan kusambut ia di SURGA dari pintu AR RAYAN”:) .

Selamat meraih pahala terbaik di detik-detik terakhir RAMADHAN…

Masih ada beberapa hari lagi untuk bercengkrama dengan RAMADHAN…O:)

“Ya Allah, andai malam ini ada diantara hamba-hamba-Mu yang Engkau angkat derajatnya, Engkau ampuni dosa-dosanya, Engkau lapangkan rizkinya, Engkau muliakan keturunannya, Engkau lepaskan dari semua kesulitannya, Engkau indahkan akhlaknya dan Engkau berkahi segala hartanya…

Maka jadikanlah sahabat hatiku yang membaca ini beserta keluarganya sebaik-baik hamba yang mendapatkannya. ‎​

Doa dan pengharapan terbaik mari bersama kita lantunkan sahabat sekalian…

Di penghujung kemesraan bulan paling mulia ini.

Doa agar kebersamaan kita ini sungguh berbuah surga. Mari saling membuka hati dengan kesadaran ukhuwah terdalam, bahwa sungguh hanya karena ikatan itu alasan kita bekerja mencurahkan potensi terbaik yang dikaruniakanNya.

Permohonan kita dr kebeningan nurani terdalam adalah agar ukhuwwah ini bukan sekedar sebuah kebetulan tak sengaja, namun sungguh anugerah keberkahan yg istimewa. Tanpanya kiranya, kita bukan siapa-siapa dan takkan banyak mempersembahkan prestasi apa-apa bagi Allah Rabbul Izzati, Sang Kekasih Sejati.

Allahua’lam bishawwab,

Selamat mereguk sajian Rabbani terindah…

Barakallahu fiikum…

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

I’tikaf Muslimah antara Maslahat dan Mudharat


Tak terasa bulan Ramadhan akan segera memasuki 10 hari terakhir. Di mana kaum Muslimin seharusnya  lebih meningkatkan ibadah dan amal shalih demi mendapatkan pahala di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, berupa terbebasnya mereka dari api neraka. Apalagi di 10 malam terakhir ada malam Laylatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Di 10 hari terakhir Ramadhan, kaum Muslimin biasanya menyiapkan diri untuk beri’tikaf seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw. “Abdullah bin Umar r.a. berkata: Rasulullah saw biasa beri’tikaf pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan,” (Bukhari, Muslim).

Profesor bidang Tafsir Al-Quran dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Dr ‘Abdul Fattah ‘Ashoor mengatakan, “I’tikaf bukan hanya disarankan bagi kaum lelaki muslim, tapi juga bagi para muslimah, karena istri-istri Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam juga beri’tikaf baik semasa Rasulullah masih hidup maupun setelah wafatnya“, ujarnya.

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya,” (Bukhari, Muslim).

Makna dibalik ‘itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan adalah untuk memberi kesempatan bagi kaum Muslimin untuk lebih mendekatkan dan mengabdikan diri secara khusus, setidaknya beberapa hari dalam satu tahun. Oleh sebab itu, i’tikaf selayaknya dilakukan di masjid dengan maksud agar bisa berkonsentrasi pada pengabdiannya dan tidak terganggu dengan urusan dunia. Pasalnya, sudah menjadi kebiasaan di hari-hari akhir bulan Ramadhan, banyak kaum Muslimin yang justru menghabiskan waktunya untuk urusan dunia mempersiapkan Idul Fitri; beli baju baru, bikin kue dan lain sebagainya.

Berbeda dengan kaum lelaki yang nyaris tak menghadapi kendala untuk beri’tikaf di masjid selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, kaum muslimah kadang menghadapi berbagai halangan jika ingin beri’tikaf di masjid, terutama mereka yang masih memiliki anak-anak yang masih kecil. Di satu sisi, mereka khawatir jika anak-anak harus ditinggal di rumah. Di sisi lain, mereka tidak mungkin membawa anak-anak ke masjid, karena takut hanya akan mengganggu kekhusyukkan orang lain yang sedang beri’tikaf.

Menanggapi dilema ini, para ulama mengatakan bahwa kaum muslimah tidak harus melaksanakan i’tikaf di masjid? Profesor ‘Ashor dari Universitas Al-Azhar Mesir menyatakan, “Boleh-boleh saja seorang muslimah beri’tikaf di masjid sepanjang tidak mengabaikan hak-hak keluarganya, terutama suami dan anak-anaknya.”

Menjawab dilema ini,  apakah muslimah boleh melakukan i’tikaf di rumah saja, Dr Rajab Abu Mleeh, konsultan syariah di Islam online mengatakan, ada perbedaan pandangan tentang hal itu. Mazhab Maliki, Shafi’i dan Hambali adalah ulama yang berpandangan bahwa seorang muslimah tidak diizinkan beri’tikaf di kamar atau mushalanya sendiri di rumah. Ketiga ulama itu merujuk pada Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 187.

” … Tetapi jangan kamu campuri mereka , ketika kamu beritikaf dalam masjid .…”

Maliki, Syafi’i dan Hambali juga merujuk pada peristiwa ketika Abdullah bin Abbas ditanya tentang seorang muslimah yang bersumpah untuk beri’tikaf di mushala di rumahnya. Abdullah bin Abbas lalu mengatakan, “Itu adalah bid’ah, dan tindakan yang paling dibenci Allah Swt adalah melakukan bid’ah. Tidak ada i’tikaf selain di masjid di mana shalat lima waktu dilaksanakan.”

Berdasarkan pandangan itu, kamar atau mushala di rumah tidak bisa dianggap sebagai masjid, dan jika i’tikaf dalam kamar atau mushala di rumah dibolehkan, maka para istri Rasulullah Saw seharusnya sudah melakukannya, meski cuma sekali.

Sebaliknya, para ulama penganut mazhab Hanafi membolehkan kaum muslimah beri’tikaf di ruangan khusus atau mushala di rumahnya. Mereka berpendapat bahwa tempat i’tikaf bagi muslimah adalah tempat yang mereka sukai dan tempat mereka melakukan salat lima waktu sehari-hari, karena tidak seperti laki-laki, lebih baik bagi kaum muslimah untuk shalat dirumah dibandingkan di masjid. Berdasarkan pendapat itu, tempat i’tikaf muslimah selayaknya di sebuah ruangan khusus atau mushala di rumahnya sendiri.

Abu Hanifah dan Ath-Thawri menyatakan, “Seorang muslimah boleh melakukan i’tikaf di rumah. Itu lebih baik bagi mereka, karena salat mereka di rumah lebih baik daripada di masjid.”

Disampaikan pula oleh Abu Hanifah bahwa Rasulullah Saw. meninggalkan i’tikafnya di masjid ketika Beliau melihat tenda-tenda istrinya berada masjid. Rasullah Saw lalu berkata, “Apakah kebenaran yang dimaksudkan dengan melakukan hal yang demikian?

Pendapat yang membolehkan muslimah i’tikaf di rumah juga mengatakan bahwa mushala di rumah adalah tempat terbaik bagi kaum muslimah menunaikan salat, maka tempat mereka i’tikaf adalah seperti masjid bagi kaum lelaki dimana mereka mereka melaksanakan i’tikaf.

Meski demikian, Dr Rajab Abu Mleeh mengatakan tidak ada salahnya bagi muslimah yang ingin beri’tikaf di masjid, karena masjid merupakan tempat terbaik untuk beribadah dan mengingat Allah ta’ala. Selain itu, tidak seperti rumah, masjid lebih memiliki atmosfir spiritual. Tapi bagi seorang ibu yang masih punya anak kecil, atau seorang muslimah yang suaminya tidak mengizinkan ia beri’tikaf di masjid, maka mereka boleh beri’tikaf di rumah.

Lebih dari itu, seorang muslimah yang memiliki niat yang tulus untuk mengabdi pada Allah Swt, ia harus memahami bahwa pahala memenuhi hak dan kebutuhan suami serta anak-anak mereka bisa sama dengan, atau bahkan lebih besar dari dari sekedar memaksakan kehendak beri’tikaf di masjid. Itulah salah satu karunia Allah ta’ala yang Dia anugerahkan pada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Mahakaya lagi Mahatahu.

Oleh karenanya, kepada semua sahabat muslimah yang tengah meniti jalan untuk lebih dekat kepada Allah, bila tak ada kendala yang bisa menghambat laju ibadah kepada Allah melalui I’tikaf, adalah maslahat, kebaikan bahkan keutamaan untuk mengupayakannya dengan seluruh kemampuan yang ada agar tercatat sebagai hamba yang tengah berlari menuju Allah mencapai taqwa sebagai puncak pencapaian ibadah di bulan Ramadhan nan istimewa.

Adapun sahabat muslimah yang masih memiliki anak-anak atau suami dan keluarga yang masih membutuhkan banyak perhatian dan kehadiran kita, janganlah berkecil hati dengan sempitnya peluang yang ada untuk beri’tikaf. Berkhidmah kepada keluarga dengan totalitas cinta dan memelihara keikhlasan karena Allah adalah kewajiban yang kelak akan berbuah surga dari pintu manapun kita ingin memasukinya. Namun bukan berarti kita bisa merasa terbebas dari keutamaan menjalankan I’tikaf. Lakukanlah di rumah kita. Di tempat yang memang telah disiapkan dengan kesungguhan yang sama di setiap celah kemungkinan sibuknya kita mengurus keluarga.

Bagaimanapun keadaan kita, dengan atau tanpa hambatan yang menghalangi langkah untuk semakin mendekat pada Allah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, mohonlah pada Allah agar menolong kita agar setiap waktu yang tersisa takkan menjadi sia-sia.

Allahumma innaka ‘afuwwun Kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fuannii…

Allahumma inni as’aluka ridhaaka waljannah, wa a’udzubika min sakhaatika wannaar...

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Kecewa dan Merugi, Siapakah?!


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar (untuk berkhutbah). Menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan amin. Begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat Sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan amin? Beliau lalu menjawab, “Malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Kecewa dan merugi orang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu.’ Lalu aku berucap, “Amin.”

“Kemudian malaikat berkata lagi, ‘Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orangtuanya tapi dia tidak sampai bisa masuk surga.’ Lalu aku mengucapkan amin.”

“Kemudian katanya lagi,’Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tapi tidak terampuni dosa-dosanya.’ Lalu aku mengucapkan amin.” (HR. Ahmad)

Sahabat hatiku, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menuntun kita agar tidak menjadi kecewa dan merugi ketika kesempatan datang tidak kita optimalisasi, baik karena ketidaktahuan atau karena keengganan atau karena keingkaran.

Sering sudah namanya disebut, apalagi di bulan Ramadhan seperti ini. Namun sudahkah kita menyertainya dengan sholawat yang akan membuahkan pahala dan syafa’at?

“Orang yang berilmu pasti tahu bahwa kelak nanti di akhirat ada suatu masa di mana semua manusia akan mencari syafa’at Nabi Muhammad. Orang yang terbiasa membaca dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah di masa hidupnya tentu akan mendapat prioritas atas syafaatnya. Orang yang tidak berilmu tidak memahami hal tersebut sehingga mereka lalai dan tidak melakukannya.”

Sebelum Ramadhan tiba, adalah biasa bahkan menjadi budaya bersilaturahim kepada orangtua atau bahkan memulai hari pertama puasa di tengah keluarga tercinta. Demikian pula menjelang Idul Fitri tiba, hampir sebagian besar kita sibuk mempersiapkan mudik dengan harapan bisa lebaran bersama orangtua. Namun cukupkah kebiasaan tersebut mewakili kewajiban kita berbuat baik kepada kedua orangtua? Padahal keberuntungan yang luar biasa akan kita peroleh ketika kita memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk membahagiakan mereka, yaitu janji surgawi dengan keabadiannya nan hakiki.

Sahabat hati, akankah kita sia-siakan peluang ini? Tentulah tidak bukan:) Mari bersamai mereka, orangtua kita. Hindari segala perkataan, perbuatan, maupun sikap yang mengundang marah kedua orangtua. Jauhi apa yang tidak mereka sukai, tinggalkan semua yang dibenci. Sebaliknya, mintalah keridhaannya dengan perbuatan baik, amalan yang ma’ruf dan sikap yang santun. Hormati mereka, bantulah mereka, dan jangan pernah berkata “ah”, yang membuat luka hatinya.

Alangkah naifnya orang yang masih bersanding dengan orang tuanya, tapi tidak mendapatkan keberuntungan berupa surga.

Sahabat hatiku, purnama Ramadhan saat ini menyapa kita dengan cahayanya yang menawan dan istimewa. Rugi besar dan kebangkrutan yang tak ternilai harganya bila kesempatan ini tidak kita manfaatkan untuk meraih ampunan-NYA. Waktu masih tersisa untuk kita maknai dan maghfirah-NYA terbentang luas tak bertepi. Kembali kepada kita, akankah kesempatan ini kita lewatkan begitu saja dan tersia-sia tanpa kesungguhan kita memaknainya?

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Cinta Stoic


Oleh Intan Savitri

“Jangan pernah mengatakan, aku kehilangan, tetapi katakanlah: aku telah mengembalikannya” (Epictetus, stoic philosopher)

 

Merasa kehilangan hanyalah mengizinkan kita untuk menjadi obyek dan betapa menjadi obyek adalah sumber penderitaan. Sebaliknya,  mengembalikan apa yang pernah kita pinjam menetapkan kita menjadi subyek, dan semoga menjadi subyek merupakan penghargaan terhadap diri kita karena berarti kita telah terpuaskan atas pinjaman yang dikaruniakan.

Menjadi subyek senantiasa memberikan rasa kuasa yang melegakan. Rasa kuasa karena kita mengembalikan dengan kesadaran penuh. Mengembalikan, berarti kita berkuasa penuh atas diri kita, menjadikan kita pihak yang telah terpuaskan atas segala sesuatu. Tidak perlu merasakan penyesalan, sebab kita telah memberikan segalanya, selagi ia kita punya kesempatan. Tidak menyesal, mendamaikan hati kita.

Seorang kekasih yang kehilangan kekasihnya tidak akan mengatakan “Aku sangat mencintaimu dan aku akan sangat menderita jika kehilanganmu” melainkan “Aku mencintaimu, tetapi ketika sesuatu terjadi padamu, aku akan baik-baik saja”. Dinginkah rasa mereka yang berkata, ‘aku akan baik-baik saja, jika terjadi sesuatu denganmu?” Apakah jika perasaan tidak diliputi kesedihan parokial disebabkan karena kehilangan seseorang yang kita cintai itu menandakan bahwa kita tidak benar-benar mencintainya?

Sebab begitu banyak dalam kehidupan ini yang tidak berada dalam kuasa kita, maka kita perlu memberi izin pada diri kita untuk mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan. Dengan demikian, maka kita tidak akan mengalami lebih sedikit kesedihan dan keguncangan. Sebab hari ini menjadi hadiah bagi kita, hari kemarin tak pernah menjadi penyesalan dan masa depan tak perlu menggelisahkan.

Pecinta stoic akan mensyukuri hari ini dengan memberikan keseluruhan dirinya, menikmati hari ini sebagai hadiah yang tak akan terulang. Ia akan memanfaatkan waktu hari ini untuk memberikan yang terbaik, sehingga ketika suatu saat ia kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintainya ia tidak merasakan penyesalan, sebab ia telah memberikan apa yang terbaik dari dirinya. Oleh sebab itu, pecinta stoic tidak pernah menunda apa yang bisa diberikan hari ini sebab ia tahu pasti bahwa keabadian tak pernah ada.

Demikianlah tulisan dari Mbak Intan Savitri, atas izinnya ku-copas untuk berbagi dengan sedikit penjelasan yang juga kuminta darinya.

Cinta Stoic mengambil dari bahasa yunani yang artinya cinta yang tabah.

Masih ingat kisah Ummu Salamah? Seorang ibu yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi kehilangan buah hatinya dan seorang istri yang memiliki ketawakkalan nan sempurna dengan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi yang tak tertandingi di zamannya, atau bahkan mungkin hingga saat ini?!

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Munajat Seorang Hamba


Manakala penghambaan ini masih dilamun bayangan syahwat kemanusiaan dengan segala atribut prestisenya…cemburuNya akan menghembus jauh ikatan indah yang seharusnya ada.

Manakala jiwa telah bersepakat dengan sumpah semesta untuk mengagungkanNya dengan sebenar keagungan & kesiapan menghinakan diri, maka itqanul ‘amal adalah energi yang takkan pernah lekang dialirkanNya.

Siapakah diriku di mata Kekasih Sejati? Sementara amal cintaku tak ada artinya di hadapan luahan kasihNya nan tak bertepi…

Apalah artinya diriku di bawah duli kemegahan Kekayaan & KuasaNya, sementara persembahanku tak pernah dapat sempurna…

Betapa maluku dalam sorot tatapanNya, karena dosa melumuri jiwa nan hina…

Duhai Rabbi junjungan hati, syukur hamba takkan pernah sebanding dg kemurahanMu…

Sujud hamba, tak lain adalah kebutuhan jiwa semata untuk mendekat padaMu…

Kemana Engkau akan tempatkan diri papa ini Tuhanku? Ijinkanlah ia untuk senantiasa meneduh dalam rengkuhan ampunanMu…

Lama nian dunia ini berlalu Kekasih pujaanku, ampunilah harap yg tak pantas karena hanya cintaMu tujuanku..

Tulisan seorang sahabat di bbm tadi malam, sejak pukul 08.55 hingga 10.54

Terimakasih sahabatku, lama kurindu goresan indah penamu yang kerap membuatku termenung memaknai diri di kancah kehidupan duniawi.

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Persiapan Sebelum Ke Akhirat


Pesan indah dari Ustadz Arifin Ilham untuk muslimin & muslimah

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap untuk hidup yang panjang.

Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

Pertama,
Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Kedua,
membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

Ketiga,
Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Keempat,
jaga shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.

Kelima
jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Keenam
jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya
Allah”.

Ketujuh, amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah

Pesan nan indah ini semoga bukan hanya terasa indah ketika dibaca, yaa Allah mudahkan kami untuk mampu menghiasi diri dengan keindahan amal shalih ini hingga bila saatnya tiba akhirat menjadi tempat kehidupan nan hakiki, tempatkan kami dalam naungan keridhaan-MU. Allahumma amiin.

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”

Marhaban yaa Ramadhan…


Marhaban yaa Ramadhan, engkau datang membawa keberkahan. Kedatanganmu membuka pintu surga dan menutup pintu nerakan. Selamat datang Syahrus Shiyam, kunantikan kehadiranmu kembali setelah perpisahan kita di tahun kemarin.

Suatu kebahagiaan tak terhingga dalam jiwa. Kebahagiaan yang menggelora penuh kehangatan iman karena bertemu kembali dengan bulan mulia-MU. Yaa Allah, Engkau tahu, aku memasuji Ramadhan dengan penuh dosa. Tetapi aku tahu Engkau Maha Pengampun. Bila Kau tidak mengampuni aku, kepada siapa aku harus memohon ampunan Yaa Rabbil Izzati, Tuhan semesta alam.

Ya Allah, aku akan memasuki Ramadhan, bulan yang penuh ampunan dan kasih sayang-MU. Aku akan kembali kepada-MU dengan sejujur-jujurnya di bulan ini dengan segala dosa dan khilaf yang telah kuperbuat selama ini. Di bulan ketika iblis dan setan dibelenggu, aku akan kembali bersama-MU, berdialog dalam rangkaian ibadahku kepada-MU. Engkau tahu bahwa selama ini aku telah mendzalimi diriku sendiri. Aku seringkai melupakan-MU, padahal Engkaulah yang memberi padaku segalanya, kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.

Yaa Rabbi, Engkau mengetahuinya dibalik hijab-MU, aku seringkali mengagungkan dunia, padahal aku tahu dunia akan aku tinggalkan. Aku sadar. Aku harus menyusun kembali agenda hidupku untuk kembali kepada-MU. Sungguh sudah terlalu lama aku lupa kepada-MU. Bahkan dalam shalat-shalatku, aku sering tidak ingat kepada-MU. Aku seringkali membawa pekerjaan ke dalam ibadahku.

Yaa Allah, ampunilah aku. Aku akan kembali ke titik fithrahku. Aku akan menanamkan dalam jiwa kesadaran sebagai hamba sejati. Karena itu bantulah aku, Yaa Allah. Bantulah aku:

“Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika”

“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir pada-MU dan selalu beribadah sebaik-baiknya pada-MU.”

Marhaban yaa Ramadhan, aku gembira sekali dengan kedatanganmu. Semoga akan aku lalui engkau tidak dengan kesia-siaan. Aku akan bertekad untuk kembali bertemu Sang Khalik tercintaku, kembali ke jalan fithrahku….

Jakarta, penghujung Juli 2011

Dikutip dari Pengantar buku “Ramadhan Bersama Allah” yang ditulis oleh DR. Amir Faishol Fath, pengajar Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah.

Allahumma sallimna li Ramadhana Wa sallim Ramadhana lana waj’alhu minna mutaqabbalan..

Ya ALLAH selamatkan kami untuk menyambut bulan Ramadhan dan jadikanlah Ramadhan indah buat kami, dan jadikanlah setiap amal yang kami lakukan sebagai ibadah yang diterima disisiMu… Amin Ya Rabb…Ya Sami’ad Da’awaat…:)

Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”