Aku Ingin Anakku…….

Aku ingin anakku…..tak seperti aku.

Ya, aku dengan ketidaktahuanku…….dulu sekali…..
Masa kecilku yang indah nan membekas dalam bagai sebuah prasasti di hatiku
Indah untuk dikenang, namun tak ingin terulang….

Anakku harus dan wajib lebih baik dari aku…..

Seperti sebuah buku yang setiap babnya punya lakon tersendiri. Setiap helainya tercatat abadi menjadi saksi atas semua peristiwa yang terjadi dan pengaruh yang ditimbulkannya terhadap diri, hidup dan kehidupan, dalam rasa, dalam jiwa, dalam ingatan. Hingga akhirnya pelan tapi pasti membentuk konsep diri, cara berpikir, perilaku, budaya dan tujuan hidup. Demikianlah masa lalu menuliskan sejarahnya untuk setiap diri.

Aku pernah menangis karena takut ketika awal masuk taman kanak-kanak dulu. Boleh jadi, ketakutan itu muncul karena aku belum merasa siap untuk bergabung dengan teman-temanku. Semua serba baru, lingkungan baru, teman baru, guru baru, pengalaman baru. Rasa tidak percaya diri juga seringkali membuatku ragu untuk mengekspresikan diri. Rasa malu telah mengalahkan keberanianku untuk maju. Hingga aku diminta ke depan untuk maju dan memberi contoh ketika pelajaran menari. Beruntungnya aku saat itu, karena guru yang mengajar tari adalah Pak Endang, tetanggaku. Aku tidak tahu, apakah ditunjuknya aku ke depan karena ia mengenalku atau karena aku cukup berbakat sehingga bisa dijadikan contoh bagi teman-temanku, aku tidak tahu! Terimakasih Pak Endang, semoga Allah memberi tempat terbaik untuknya di sisi-NYA. Atas jasamu aku merasa menjadi lebih berarti.

Dari pengalamanku yang sederhana ini, aku belajar untuk mendengar anak-anakku. Mengenali perasaan mereka, satu demi satu. Memahami dan berempati untuk setiap rasa yang mereka miliki, walaupun bukan sebuah upaya yang mudah dan butuh kepekaan tersendiri. Seperti yang terjadi saat ini pada kedua dari tujuh anakku, Salima dan Safira. Mereka berdua lahir pada tanggal yang sama, di jam yang berbeda hanya beberapa menit saja. Walaupun demikian, masing-masing berasal dari dua sel telur dan sel sperma yang berbeda-beda. Hasil USG menunjukkan usia janin mereka ketika masih dalam kandungan berbeda sekitar dua minggu. What amazing!!! Aku sendiri seringkali terpesona dengan kenyataan yang ada…tapi itulah Allah dengan segala kekuasaan-NYA…subhanallah.

Kembali tentang Salima dan Safira, banyak yang sulit membedakan keduanya. Mereka berbeda tapi terlihat sama. Mereka sama tapi sesungguhnya berbeda. Demikianlah mereka, waktu, jarak, ruanglah yang membuat mereka berdua seperti sama walau berbeda atau seperti berbeda tapi sama. Bingungkan?! hehehe….orang yang tidak mengenal mereka atau bahkan yang mengenalpun kerap menyebut mereka berdua dengan si kembar.

Saat ini usia Salima dan Safira memasuki empat tahun tiga bulan. Kebanyakan anak seusia mereka mungkin sudah mulai bersekolah. Pada awalnya, aku pun ingin mereka seperti anak yang lainnya. Tetapi setiap aku tanya, “Salima mau sekolah?” Atau “Safira mau sekolah?” jawabannya tidak pernah sama. Terkadang “ya” seringkali juga “tidak”. Suatu kali aku mencoba untuk melakukan test atas kesiapan mereka bersekolah. Ketika berangkat dari rumah, mereka berdua tampak senang dan siap. Salima dengan cukup mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan psikolog yang akan menilainya. Subhanallah…..Salima berhasil dengan sangat baik melakukan semua yang diminta untuk dikerjakan dan psikolog menyatakan ia siap untuk sekolah di TK A. Akan halnya Safira….yang dalam hal menyesuaikan diri di lingkungan yang baru berbeda kecepatannya dengan Salima, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menghadapi bahkan mengerjakan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh Salima. Padahal tak ada kesulitan yang berarti untuk Safira bila melakukannya di rumah.

Setelahnya aku mendiskusikan hasil mereka berdua dan saran yang aku terima dari psikolognya…untuk mereka berdua jangan dipisahkan dulu dan masih butuh waktu untuk mempersiapkan mereka agar bisa bersekolah. Kepada Salima, aku bertanya, “Salima mau sekolah?” dengan wajah murung ia menjawab, “nggak!” Penasaran dengan alasannya aku bertanya lagi, “Kenapa?” Jawabnya, “Nanti Safiranya nangis…” Subhanallah…., basah hatiku dibuatnya. Salima kecil, terimakasih…. Salima sudah mengajarkan pada Ummi untuk lebih peduli pada gejolak jiwa Safira. Kucium dan kupeluk erat Salima, guru kecilku yang bijak dan lucu. Ku peluk dan ku cium juga Safira serta meminta maaf padanya karena aku sudah memaksakan hal yang belum siap ia lakukan. Aku memutuskan untuk menunda waktu sekolah mereka sampai tiba saatnya mereka berdua merasakan bersekolah itu menyenangkan.

Masa kecil yang indah yang tak lekang oleh waktu, terpatri kuat dalam ingatan, terpendam dalam mengukir goresan di hati dan membekas di jiwa….. Aku ingin Salima dan Safira mengingatnya dengan hati yang berbunga dan mata nan memancarkan cahaya bahagia agar mereka memiliki gambaran yang indah tentang hidup, harapan yang besar pada Pencipta kehidupan dan jiwa yang siap dan percaya pada ketetapan terbaik atas mereka.

Duhai Allah Yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam keta’atan kepada-MU.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s